Journal of Parasite Science. (J. Parasite Sci.) Vol. 2, No.1, Maret 2018 Prevalence and Saverity Level of Scabies (Sarcoptes scabiei) on Rabbits,, 15 Prevalence and Saverity Level of Scabies (Sarcoptes scabiei) on Rabbits in Sajen Village, Pacet SUB-District, Mojokerto Regency Prevalensi dan Tingkat Keparahan (Sarcoptes scabiei) Pada Ternak Kelinci di Desa Sajen Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto 1) Taufik Tri Laksono, M. 2) Gandul Atik Yuliani, 3) Agus Sunarso, 3) Nunuk Dyah R L, 3) Lucia Tri Suwanti, 4) Soeharsono 1) Mahasiswa, 2) Departemen Kedokteran Dasar Veteriner, 3) Departemen Parasitologi Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan tingkat keparahan scabies (Sarcoptes scabiei) pada ternak kelinci di Desa Sajen, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokereto. Sarcoptes scabiei var. cuniculi merupakan tungau dengan predileksi di stratum korneum dari kulit dan penyebab scabies. Gejala klinis ditandai dengan alopecia and krusta pada kulit. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksploratif labolatorik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah kelinci pada satu peternakan yang memiliki gejala klinis scabies dan hasil dari kerokan kulit pada pemeriksaan laboratoris secara natif. Kelinci yang positif scabies kemudian dilakukan skoring berdasarkan tingkat keparahan pada regio tubuh dan gejala klinisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 110 ekor kelinci dalam populasi, terdapat 19 ekor yang terinfeksi scabies dan terdapat 2 tingkat keparahan scabies pada kelinci yaitu tingkat keparahan ringan dan sedang yang terbagi atas 2 regio tubuh. Tingkat keparahan ringan menunjukkan gejala klinis alopecia dan krusta pada regio wajah sedangkan tingkat keparahan sedang pada regio wajah dan kaki. Kesimpulan pada penelitian ini adalah angka prevalensi scabies sebesar 17,27% dan tingkat keparahan ringan sebesar 26,32% serta tingkat keparahan sedang sebesar 73,68. Kata kunci : kelinci , prevalensi, tingkat keparahan, scabies, Sarcoptes scabiei. Pendahuluan Scabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi dari Sarcoptes scabiei. Penyakit ini sering disebut juga dengan kudis (Handoko, 2008). Tungau menyerang dengan cara menginfestasi kulit induk semangnya dan bergerak membuat terowongan di bawah lapisan kulit (stratum korneum dan lusidum) sehingga menyebabkan gatal-gatal, kerontokan rambut, dan kerusakan kulit (Urqurath et al., 1989; Lastuti et al., 2017) Scabies merupakan penyakit yang banyak menyerang ternak, bahkan manusia (Desiandura et al., 2017). Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung antar hewan penderita bahkan kontak tidak langsung yaitu melalui peralatan yang terkontaminasi (Eleser dkk., 2005). Tingkat hygiene dan sanitasi yang relatif rendah menjadi faktor pemicu terjangkitnya penyakit ini. Kondisi kandang yang sempit, lembab, dan berdesakan semakin mempermudah penularan penyakit scabies dari hewan penderita kepada hewan yang sehat (Partosoedjono, 2003). Menurut McCarthy et al. (2004) Sarcoptes scabiei ini ditemukan hampir di seluruh dunia. Laporan terhadap outbreak atau kasus scabies pada kelinci juga pernah tercatat. kerugian akibat matinya ternak penderita scabies sangat ber- variasi, tergantung pada faktor predisposisi serta faktor lainnya yang terlibat. Kematian akibat scabies sering disebabkan karena malnutrisi (Abu- Samra et al., 1981). Kerugian ekonomi yang timbul