Jurnal Atomik, 2018, 03 (1) hal 39-46 39 PENURUNAN INTENSITAS WARNA REMAZOL RED RB 133 DALAM LIMBAH BATIK DENGAN ELEKTROKOAGULASI MENGGUNAKAN NaCl A DECREASE IN THE INTENSITY OF DYE RED REMAZOL RB 133 IN BATIK WASTE WITH ELECTROCOAGULATION METHOD USING NaCl Nurul Fatimah * , Alimuddin, Rahmat Gunawan Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman Jalan Barong Tongkok, Kampus Gn. Kelua, Samarinda 75123 *E-mail: nurulfatimah2412@gmail.com Received: 05 February 2017, Accepted: 12 February 2018 ABSTRACT A decrease in the intensity of dye Remazol Red RB 133 in batik waste with electrocoagulation method using electrodes aluminum and stainless steel has been done. Analysis was performed using a spectrophotometer Visibel. The results showed that the optimum effect of adding NaCl at a concentration 7 g/L with degradation was 84.95% percent, optimum contact time 60 minutes with degradation was 86.36%, stronger optimum voltage 12 Volts with degradation was 94.31% and pH optimum at pH 4 with degradation was 96.86%. Electrocoagulation in optimum condition dye Remazol Red RB 133 produces an average degradation was 96.41%, and electrocoagulation of batik waste obtained an average degradation was 91.38%. Keywords: Electrocoagulation, Remazol Red RB 133, NaCl PENDAHULUAN Remazol red RB 133 merupakan salah satu dari ratusan jenis pewarna yang ada. Remasol adalah polutan organik yang sulit didegradasi oleh alam sehingga merusak estetika dan meracuni biota air didalam badan air. Remasol merupakan jenis pewarna tekstil yang cukup mudah diaplikasikan di banding jenis pewarna lain seperti indigosol, naftol dan yang lain. Karena pewarna reaktif ini dapat larut dalam air. Elektrokoagulasi merupakan salah satu teknik pengolahan limbah zat warna cair dimana melibatkan reaksi elektrolisis di dalamnya. Dalam proses ini akan terjadi proses reaksi reduksi dimana logam- logam akan direduksi dan diendapkan dikutub negatif, sedangkan elektroda positif akan teroksidasi yang berfungsi sebagai koagulan. [1] mengemukakan tentang pengolahan limbah tekstil menggunakan elektrokoagulasi berhasil menurunkan warna dari zat warna tekstil Direc Red 12 B sebesar 94,5% dan Direc Black Ex sebesar 98,3% dengan menggunakan elektroda Alumunium. Selain itu berdasarkan penelitian [2] tentang proses elektrokoagulasi yang dilakukan menggunakan elektroda alumunium dan stainless steel didapatkan persentase penurunan optimum dari warna dengan elektroda Alumunium 99,78% sedangkan elektroda stainless steel 94,76%. Dua penelitian ini menunjukkan bahwa metode elektrokoagulasi efektif sebagai metoda dalam penurunan zat warna dalam limbah batik yang murah dan mudah. Elektrokoagulasi dilakukan dengan penambahan elektrolit. Larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik. Dalam hal ini tersalurnya arus listrik bukan disebabkan oleh gerakan elektron di dalam larutan, melainkan oleh gerakan ion-ion dan dinamakan penghantaran elektrolitik. Dalam hal ini disertai terjadinya reaksi kimia [3]. Penelitian ini menggunakan elektrolit NaCl karena elektrolit NaCl lebih efektif , mudah didapatkan dan lebih ekonomis untuk pengolahan limbah pewarna. Maka penelitian ini dapat dilakukan dalam uji penurunan intensitas warna Remazol Red RB 133 pada limbah batik dengan menggunakan proses elektrokoagulasi. Pada proses elektrokoagulasi ini digunakan elektroda Alumunium dan stainless steel. Dengan tahapan optimasi berdasarkan variasi konsentrasi elektrolit NaCl, lama waktu kontak, tegangan dan pH hingga diperoleh kondisi optimum dari masing-masing variasi. Selanjutnya dilakukan elektrokoagulasi Remazol Red dan limbah batik pada kondisi optimum.