288 BioEksakta: Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Volume 2, Nomor 2 (2020): 288 - 296 E-ISSN: 2714-8564 Pemanfaatan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Pewarna Alami Jaringan Daun dan Batang Krokot (Portulaca oleracea L.) Gita Fitriyani, Muachiroh Abbas, Siti Samiyarsih Faklutas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jalan dr. Soeparno 63 Purwokerto 53122 Email : gitafitriya97@gmail.com Rekam Jejak Artikel: Received : 29/08/2019 Accepted : 07/04/2020 Abstract Natural dyes are an alternative to synthetic dyes because they are safe, inexpensive and environmentally friendly. natural dye sources obtained from plant parts such as fruit peels. Efforts to use mangosteen rind waste as an herbal remedy can also be used as a natural dye because it has a high enough anthocyanin content. Anthocyanins in mangosteen peel can be obtained through extraction. Maceration is an easy extraction method where the results are only affected by the type of solvent and the extraction time. Purslane (Portulaca oleracea L.) is used as research material because currently purslane has been widely used because of its nutritional content including high metabolic and antioxidant regualting substances. This study aims to determine the ability of mangosteen rind extract in coloring the leaf and stem tissue of purslane, and to determine the type of solvent and optimal immersion time to produce mangosteen rind extract so that it can color the leaf tissue and stems purslane well. The study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with 2 factors: factor 1 was the type of solvent using ethanol 96% and citric acid 14%, the second factor was immersion time, namely 26, 27 and 28 hours. The data obtained were analyzed descriptively qualitatively including the contrast and clarity of the preserved tissue preparation of leaf and stem purslane. The results showed mangosteen rind extract has the ability to dye leaf tissue and stems. The type of 14% citric acid solvent with 28 hours soaking time was optimal in producing mangosteen rind extract so that it was able to dye the leaf and stem tissue of purslane. Keywords: anthocyanin, maceration, mangosteen rind, natural coloring, purslane Abstrak Pewarna alami menjadi alternatif pengganti pewarna sintetis dikarenakan bersifat aman, murah dan ramah lingkungan. Sumber pewarna alami diperoleh dari bagian-bagian tumbuhan misalnya kulit buah. Upaya pemanfaatan limbah kulit buah manggis selain sebagai obat herbal dapat dimanfaatkan juga sebagai pewarna alami karena memiliki kandungan antosianin yang cukup tinggi. Antosianin dalam kulit buah manggis dapat diperoleh melalui ekstraksi. Maserasi merupakan metode ekstraksi yang mudah dilakukan dimana hasilnya hanya dipengaruhi oleh jenis pelarut dan lama ekstraksi. Krokot (Portulaca oleracea L.) digunakan sebagai bahan penelitian karena saat ini krokot telah banyak dimanfaatkan karena kandungan gizi diantaranya mengandung zat pengatur metabolisme dan antioksidan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak kulit buah manggis dalam mewarnai jaringan daun dan batang krokot, dan untuk mengetahui jenis pelarut dan waktu perendaman yang optimal untuk menghasilkan ekstrak kulit buah manggis sehingga dapat mewarnai jaringan daun dan batang krokot dengan baik. Penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu faktor 1 adalah jenis pelarut menggunakan etanol 96% dan asam sitrat 14%, faktor ke 2 lama perendaman, yaitu 26, 27 dan 28 jam. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif meliputi kekontrasan dan kejelasan preparat awetan jaringan daun dan batang krokot. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit buah manggis memiliki kemampuan dalam mewarnai jaringan daun dan batang krokot. Jenis pelarut asam sitrat 14% dengan lama perendaman selama 28 jam merupakan yang optimal dalam menghasilkan ekstrak kulit buah manggis sehingga mampu mewarnai jaringan daun dan batang krokot. Kata kunci : antosianin, krokot, kulit buah manggis, maserasi, pewarna alami. PENDAHULUAN Pewarnaan berfungsi untuk mewarnai jaringan yang dapat memperjelas bagian-bagian jaringan tumbuhan (Gresby, 2013). Pewarna yang biasa digunakan adalah pewarna sintetis contohnya safranin yang bersifat karsinogenik, harganya mahal dan limbah yang dihasilkan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, harus ada alternatif pengganti pewarna sintetis, yaitu dengan menggunakan pewarna alami yang lebih efisien, harganya murah, memiliki daya afinitas tinggi dan aman. Pewarna alami merupakan pewarna yang