396 Pemodelan Daya Dukung Lahan Pertanian Pangan dengan Model Spatial Autoregressive (SAR) di Kota Batu Meilinda Trisilia 1)* , Henny Pramoedyo 2) , Suci Astutik 2) 1) Program Studi Magister Statistika, Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang 2) Prodi Statistika, Jurusan Matematika Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang Diterima 08 Mei 2014, direvisi 30 September 2014 ABSTRAK Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dapat menyebabkan ketersediaan lahan pertanian menjadi semakin kecil, hal ini menyebabkan ketidakseimbangan penduduk yang bekerja sebagai petani pada suatu wilayah dengan luas lahan pertanian yang ada, sehingga tekanan penduduk pada lahan pertanian akan semakin besar sehingga wilayah tersebut tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Jika hal ini berlangsung terus menerus maka bukan tidak mungkin produksi sudah tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk yang ada, dan mengakibatkan daya dukung lahan pertanian akan semakin kecil. Sehingga analisis daya dukung lahan pertanian perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan lahan dalam menyediakan pangan bagi pemenuhan kebutuhan penduduk di suatu daerah tertentu. Daya dukung lahan pertanian yang merupakan fungsi dari beberapa variabel spasial dapat mengakibatkan adanya keterkaitan spasial. Model yang dapat menerangkan hubungan variabel yang memiliki keterkaitan spasial disebut dengan model regresi spasial. Salah satu model regresi spasial yang efektif untuk menduga data yang memiliki efek dependensi spasial pada peubah respon adalah model Spatial Autoregressive (SAR). Daya dukung lahan pertanian pangan merupakan suatu fenomena autokorelasi spasial. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada daya dukung lahan pertanian pangan di setip desa/kelurahan se-Kota Batu, diperoleh informasi adanya pengaruh yang nyata dari persentase jumlah petani (X1), luas lahan untuk hidup layak (X2), dan jumlah komoditas tanaman pangan (X3) serta koefisien dependensi lag () terhadap daya Kata kunci : Spasial Autoregressive, daya dukung lahan pertanian pangan, Kota Batu ABSTRACT Increasing population growth can lead to the availability of agricultural land becomes smaller, it causes an imbalance of farmers population in a region with an area of agricultural land there, so the population pressure on agricultural land will be greater so that the region no longer can meet the needs of food population. If this happends continue then it is not impossible that the production has not proportional to the needs of existing population, and resulted in the carrying capacity of agricultural land will be smaller. So the analysis of the carrying capacity of agricultural land needs to be done to determine the ability of the land to provide food for the population needs in a given area. Carrying capacity of agricultural land is a function of several spatial variables may give effect in spatial linkages. The model can explain the relationship between variables that have a spatial relationship is called spatial regression models. One of the effective spatial regression models to estimate the effects of data that has a spatial dependencies in the response variable is Spatial Autoregressive (SAR) model. Agricultural land supporting food is a phenomenon of spatial autocorrelation. Based on observations made at the carrying capacity of agricultural land for food in every village in Batu City, information obtained that there is significant effects of the percentage of farmers (X1), the land area for a decent life (X2), and the amount of food crops (X3) and the coefficient dependencies on lag (ρ) to the carrying capacity of farmland food (Y). Keywords : Spasial Autoregressive, Agricultural Land Capability for Food, Batu City NATURAL B, Vol. 2, No. 4, Oktober 2014 --------------------- *Corresponding author: E-mail: meilindatrisilia@yahoo.com