Kontribusi Mujahid bin Jabar dalam Diskursus Penafsiran Klasik 199 Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Volume 15 Nomor 02 2021 Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al Qur’an dan Tafsir issn 2354-6204 eissn 2549-4546 Tersedia online di: journal.stainkudus.ac.id/index.php/Hermeneutik DOI: 10.1234/hermeneutik.v15i2. 11194 KONTRIBUSI MUJAHID BIN JABAR DALAM DISKURSUS PENAFSIRAN KLASIK Muhammad Mundzir Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta munmundzir@gmail.com Abstrak Tulisan ini mendiskusikan tentang metode dan sumber penafsiran klasik yang mengalami perkembangan dari masa ke masa. Dalam hal ini penulis fokus kepada diskursus tafsir pada zaman tabi’in dengan mengambil tokoh Mujahid bin Jabar. Pengkajian kepada Mujahid bin Jabar dipertimbangkan dengan beberapa alasan, pertama, Mujahid sebagai tokoh yang memiliki ketersambungan sanad dengan Ibn Abbas yang mendapat julukan Tarjuman Al-Qur’an. Kedua, kredibilitas Mujahid bin Jabar yang menurut mufassir dan muhaddis memiliki keluasan ilmu, baik di bidang tafsri, hadis, fiqh, atau qiraat. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif untuk mengkaji beberapa tafsir yang diangkat oleh Mujahid. Penulis menyimpulkan bahwa mayoritas metode tafsir yang digunakan oleh Mujahid adalah Metode Ijmaliy, sedangkan coraknya cenderung fiqhiy sebab Mujahid mulai menggunakan pendekatan bi al-ra’yi. Penafsirannya juga ikut bersumbangsih dalam pengembangan ulum al-Qur’an, di mana ia mulai mengenalkan konteks turunnya ayat, memaknai lafadz dengan meluaskan maknanya dan memberikan makna yang serupa namun tidak sama. Keyword: Mujahid bin Jabar, Penafsiran, Klasik, Ulum al-Qur’an. Abstract This paper discusses the methods and sources of classical interpretation that have developed from time to time. In this case, the author focuses on the discourse of interpretation in the tabi'in era by taking the figure of Mujahid bin Jabar. The study of Mujahid bin Jabar was considered for several reasons, first, Mujahid as a figure who had a chain connection with Ibn Abbas who earned the nickname Tarjuman Al-Qur'an. Second, the credibility of Mujahid bin Jabar which according to mufassir and muhaddis has a broad knowledge, both in the fields of tafsri, hadith, fiqh, or qiraat. This paper uses a qualitative method to examine several interpretations raised by Mujahid. The author concludes that the majority of the interpretation methods used by Mujahid are the Ijmaliy