Vol. 9, No. 1, Maret 2020: 16 - 20 Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat ISSN 1410 - 5675 PENERAPAN TEKNOLOGI METODE KANTONG DALAM BUDIDAYA RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii GUNA PENINGKATAN PRODUKSI Nally Y.G.F. Erbabley, 1 Dominggas M. Kelabora, 2 dan Martha Rettob 3 Politeknik Perikanan Negeri Tual, Teknologi Budidaya Perikanan Jl. Langgur-Sathean Km. 6 Kabupaten Maluku Tenggara E-mail : nallyerbabley@gmail.com ABSTRAK. Tujuan pelaksanaan budidaya rumput laut adalah menghasilkan pembudidaya yang mandiri dan mampu berproduksi untuk memenuhi permintaan pasar rumput laut. Dalam memproduksi rumput laut, kendala utama adalah pemangsaan oleh predator ikan sehingga berpengaruh terhadap jumlah produksi yang dihasilkan sehingga penerapan ipteks diperlukan untuk mengatasi kontinuitas produksi rumput laut yang dihasilkan mitra. Target khusus dan luaran dari kegiatan PPM ini adalah dapat mengatasi permasalahan produksi dengan menerapkan metode kantong dalam budidaya untuk menghindari pemangsaan oleh ikan, menggunakan bibit unggul dan menerapkan teknik pengeringan rumput laut yang baik. Metode pelaksanaan PPM untuk mengatasi permasalahan mitra adalah pendampingan berupa penyuluhan dan pelatihan. Hasil pendampingan kegiatan PPM, mitra diharapkan sebagai pembudidaya mandiri yang mampu melakukan budidaya rumput laut dan memiliki kepedulian dan tanggungjawab (sense of belonging) terhadap sumberdaya serta pelestarian sumberdaya yang ada, menghasilkan produk rumput laut yang berkualitas sesuai permintaan pasar dan menjadikan rumput laut sebagai salah satu komoditas andalan untuk meningkat pendapatan. Target luaran tersebut diharapkan mampu berdampak terhadap up-dating ipteks budidaya rumput laut bagi mitra, meningkatkan produktiftas mitra dalam budidaya rumput laut serta pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan produktiftas sumberdaya manusia maupun disersivikasi usaha. Luaran kegiatan ini berupa metode budidaya yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Kata kunci: budidaya rumput laut; metode kantong; produksi TECHNOLOGY APPLICATION OF BAG METHOD IN SEAWEED CULTIVATION OF Eucheuma cottonii TO INCREASE IN PRODUCTION ABSTRACT. The purpose of seaweed cultivation is to produce independent farmers who are able to produce to meet the demand of the seaweed market. In producing seaweed, the main obstacle is predation by fsh predators that afect the amount of production produced so that the application of science and technology is needed to overcome the continuity of seaweed production produced by partners. Specifc targets and outputs of this PPM activity are to be able to overcome production problems by applying the bag method in cultivation to avoid predation by fsh, using superior seeds and applying good seaweed drying techniques. The method of implementing PPM to overcome partner problems is mentoring in the form of counseling and training. As a result of the PPM assistance, partners are expected to be independent farmers who are able to do seaweed cultivation and have a sense of belonging to the resources and preservation of existing resources, produce quality seaweed products according to market demand and make seaweed one mainstay commodity to increase income. The target output is expected to be able to have an impact on up-dating science and technology of seaweed cultivation for partners, increase partner productivity in seaweed cultivation and community empowerment in increasing the productivity of human resources and business disertivication. The output of this activity is in the form of cultivation methods that can be utilized directly by the community. Key words: seaweed cultivation; bag method; production PENDAHULUAN Analisis Situasi Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan pada kegiatan revitalisasi perikanan yang pros- pektif. Saat ini potensi lahan budidaya rumput laut di Indonesia sekitar 1.2 juta ha, namun baru termanfaatkan sebanyak 26,700 ha (2.2 %) dengan total produksi 410.570 ton basah. Budidaya rumput laut tidak memerlukan teknologi yang tinggi tetapi teknologi praktis, investasi cenderung rendah, menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dan menghasilkan keuntungan yang cukup besar (Serdiati dkk, 2010). Rumput laut sebagai komoditas yang prospektif menjadikan usaha budidayanya memiliki peluang dan tantangan untuk memacu paket teknologi bagi pengem- bangannya secara cepat dan tepat dalam memenuhi permintaan produksi secara kuantitas, kualitas, dan kontinuitas. Indikasi-indikasi visual maupun penentuan kelayakan lahan melalui pengukuran parameter biofsik tidak menjamin keberhasilan budidaya pada suatu areal secara spatio temporal (Nurdjana, 2006). Meskipun rumput laut telah populer dengan harga yang cukup tinggi, akan tetapi belum mencapai produksi maksimum baik produksi basah, kering maupun kualitas kadar karaginannya. Tidak tercapainya produksi tersebut antara lain di sebabkan karena pembudidaya rumput laut belum mengetahui atau memperhatikan potensi tumbuh dari rumput laut itu sendiri dengan menyesuaikan lokasi budidaya, baik dalam pemakaian bibit dan waktu panen yang belum efektif, serta penggunaan bibit heterogen baik bobot maupun asal thallus, sedangkan pemanenan dalam waktu yang sama. Selanjutnya Carte (1996) mengatakan, penurunan suatu produksi dapat disebabkan antara