LENTERA : Vol.10, No.2, Nopember 2010 46 PENENTUAN PERIODE TANAM BEBERAPA KOMODITAS TANAMAN SEMUSIM DI KECAMATAN PEUSANGAN SELATAN KABUPATEN BIREUEN 1 Cut Azizah 2 , Halus Satriawan 3 1 Penelitian dibiayai oleh PDM-DIPA Kopertis Wilayah I Aceh-Sumut, 2010 2 Staf pengajar pada Program Studi Teknik Sipil Unimus 3 Staf pengajar pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Unimus ABSTRAK Iklim dan cuaca merupakan lingkungan fisik esensial bagi tanaman yang sulit dikendalikan atau dimodifikasi. Akibat berbagai sifat ekstrimnya, tidak jarang iklim merupakan kendala bagi produksi pertanian. Salah satu cara mengendalikan iklim dalam meningkatkan produksi pertanian adalah melalui pendekatan empiris untuk menentukan periode tanam. Penentuan periode tanam dengan pendekatan empiris yang umum dilakukan adalah dengan menentukan periode curah hujan efektif yang tersedia berdasarkan curah hujan dan evapotranspirasi potensial. secara umum waktu tanam Padi tadah hujan, jagung dan kedelai dengan tanpa memperhitungkan kandungan air tanah tersedia sepanjang minggu dalam setahunnya. Dengan memperhitungkan keadaan air tanah diatas optimum, untuk padi tadah hujan diperoleh selama 32 minggu, hal ini terjadi karena terdapat selama 4 minggu dimana kandungan air tanah diperkirakan berada dibawah nilai optimum, sehingga minggu-minggu ini tidak disarankan untuk menanam tanaman. Kata Kunci: Periode tanam, curah hujan, evapotranspirasi I. PENDAHULUAN Hingga saat ini terdapat 124 juta ha lahan yang tergolong dalam kategori lahan kering, dan tersebar di pulau sumatera, kalimantan, sulawesi dan nusa tenggara. Di wilayah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam luas lahan kering mencapai 386.472 ha, yang terdiri dari 90.947 ha sudah dimanfaatkan dan lahan yang belum termanfaatkan seluas 295.525 ha (BPS NAD, 2007). Di Kabupaten Bireuen terdapat 174.799 ha lahan pertanian yang terdiri dari 22.948 ha lahan sawah dan 151.851 ha lahan kering. Dari total luas lahan sawah, 5789 ha merupakan lahan sawah tadah hujan. Artinya luas lahan pertanian lahan kering/tadah hujan di wilayah kabupaten Bireuen seluas 157.640 ha (BPS Bireuen, 2006). Berdasarkan luas tanam untuk beberapa komoditas di Kecamatan Peusangan selatan, padi sawah irigasi mencapai luas 390 ha dengan produksi 4,9 ton/ha, padi tadah hujan seluas 902 ha dengan produksi 4,5 ton/ha. Rendahnya produktivitas di lahan tadah hujan disebabkan oleh kurangnya ketersediaan air selama periode tumbuh dan kurang tepatnya waktu tanam. Iklim dan cuaca merupakan lingkungan fisik esensial bagi tanaman yang sulit dikendalikan atau dimodifikasi. Akibat berbagai sifat ekstrimnya, tidak jarang iklim merupakan kendala bagi produksi pertanian. Curah hujan merupakan unsur iklim yang berpengaruh cukup dominan terhadap produksi pertanian melalui ketersediaan air bagi tanaman. Lebih khusus variasi iklim musiman merupakan penyebab utama menurunnya produksi tanaman pangan. Kemarau panjang dan kekeringan menyebabkan gagal panen dan kekurangan pangan yang pada gilirannya mempengaruhi mutu kehidupan di suatu negara (Yasin, et.al, 2008). Salah satu cara mengendalikan iklim dalam meningkatkan produksi pertanian