Fungsi Sosial dan Transendental Tradisi Lisan Dero-Sagi Suku Bajawa-Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (Sastri Sunarti) 86 Fungsi Sosial dan Transendental Tradisi Lisan Dero-Sagi Suku Bajawa-Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur Sastri Sunarti Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Abstrak Keterpingiran dan kehilangan tradisi lisan di Indonesia pada dekade terakhir menjadi isu yang kerap dikeluhkan oleh para peneliti di bidang tradisi lisan. Namun, dalam tulisan ini saya mencoba memperlihatkan bagaimana Dero-Sagi (tradisi lisan) masyarakat Ngada, Bajawa, Flores, NTT bertahan dalam gempuran globalisasi dan permarginalan tradisi lokal. Ritual Dero- Sagi merupakan ritual pengungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen kepada Tuhan YME. Dalam praktiknya Dero-Sagi memiliki dua fungsi yakni fungsi sosial dan fungsi transendental. Tulisan ini bermaksud mengupas kedua fungsi tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif. Selain itu, tulisan ini juga bermaksud mengungkapkan komposisi skematik lisan dalam tuturan lisan pertunjukan Dero-Sagi. Kata Kunci: Tradisi lisan, Fungsi Sosial, dan Komposisi Skematik Lisan Abstract In the latest decade, the issue of marginalization of local culture (oral tradition) by the global culture is intensively discussed by social scientists. This paper aims to show how the local communities in Bajawa district, East Nusa Tenggara, actively maintain their Dero–Sagi ritual, an oral tradition, from the onslaught of globalization and local tradition marginalization. Dero– Sagi ritual is a ritual to show gratitude to the creator for the success of the harvest. In practice, Dero-Sagi ritual has two functions, namely social and transcendental functions. In this paper, the two functions are elaborated using qualitative and descriptive approaches. In addition, this paper also describe the oral schematic composition in Dero-Sagi ritual’s oral speech. Keywords: oral tradition, ritual function, schematic composition