AMIK KRISMAWATI : Uji adaptasi varietas dan galur kenaf (Hibiscus cannabinus L.) di lahan pasang surut Kalimantan Selatan 107 UJI ADAPTASI VARIETAS DAN GALUR KENAF (Hibiscus cannabinus L.) DI LAHAN PASANG SURUT KALIMANTAN TENGAH AMIK KRISMAWATI Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah Jl. G. Obos Km 5 Palangka Raya (0536) 3220662 ABSTRAK Potensi lahan pasang surut Kalimantan Tengah cukup luas yaitu 5,5 juta hektar dimana sebagian dapat dikembangkan dengan tanaman kenaf. Penelitian uji adaptasi varietas dan galur kenaf dilaksanakan di lahan pasang surut desa Samuda, kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Perlakuan berupa varietas/galur kenaf yang terdiri dari dua varietas (Hc G-4 dan Cuba 108/II) dan empat galur hasil persilangan (Hc 85.9.75; Hc 85.9.40. 1; Hc 85.9.42; Hc 85.9.66.1), yang diatur dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman dan diameter batang pada umur 40, 75 dan 105 hari setelah tanam terhadap 10 tanaman acak per petak, bobot segar biomasa, bobot serat per petak, dan bobot kering akar adventif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua galur hasil persilangan yaitu Hc 85.9.661 dan Hc 85.9.75 mempunyai adaptasi cukup bagus dengan tinggi tanaman akhir masing-masing adalah 265,25 cm dan 260, 25 cm serta diameter batang masing-masing adalah 2,17 cm dan 2,10 cm. Hasil serat tertinggi masing-masing sebesar 2,40 dan 2,30 ton/ha, sementara varietas Hc G-4 mencapai 2,25 ton/ha. Kata kunci : Kenaf, Hibiscus cannabinus L., varietas, galur, adaptasi, lahan pasang surut, Kalimantan Tengah ABSTRACT Adaptation test of kenaf (Hibiscus cannabinus L.) varieties and lines at tidal swamps land, Central Kalimantan The area of tidal swamps In Central Kalimantan is approximately 5.5 million hectare and parts of that area can be developed by kenaf plant. The adaptation test of several kenaf varieties and lines was conducted in Samuda Village, Mentaya Hilir Selatan District, Kotawaringin Timur, Central Kalimantan. The experiment used a randomized block design with three replications and six treatments consisting of two kenaf varieties (Hc G-4 and Cuba 108/II) and four kenaf lines (No 85.9.75; No 85.9.40.1; No 85.9.42; No 85.9.66.1). Parameters observed were plant height, stem diameter at 40, 75 and 105 days after planting, on 10 random plants perplot, fresh biomass, dried fiber, and dried adventive root weight. The results of this experiment showed that two lines, namely Hc 85.9.66.1 and Hc 85.9.75 obtained the optimal vegetative growth as their plant height and stem diameter at harvesting time reached 265.25 cm and 260.25 cm, 2.17 cm and 2.10 cm respectively. The fiber yields of the two lines were 2.40 and 2.30 ton/ha respectively, while the control line Hc G-4 was only 2.25 ton/ha. Key words : Kenaf, Hibiscus cannabinus L., variety, line, adaptation, tidal swamps land, Central Kalimantan PENDAHULUAN Tanaman kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupa- kan tanaman penghasil serat yang berasal dari kulit batang. Serat tersebut terutama digunakan sebagai bahan baku industri karung goni. Selain itu digunakan untuk soil safer, geotekstil, tali temali, fibre drain, dan kerajinan tangan. Dalam dasawarsa terakhir ini karung goni mendapat saingan yang tajam dari karung plastik karena harganya lebih murah, dapat diproduksi besar-besaran, ketersediaan- nya kontinyu dan penampilannya dapat dibuat sesuai dengan selera konsumen. Keadaan tersebut menyebabkan pabrik karung yang aktif tinggal tiga yaitu pabrik karung Rosella Baru Surabaya (PTPN XI), Pecangaan Surabaya (PTPN X), dan pabrik karung Indonesia Nihon Seima, Tangerang (SASTROSUPADI et al., 1998). Selain menghasilkan serat, ternyata dari hasil-hasil penelitian di dalam dan di luar negeri tanaman kenaf menunjukkan tanaman semusim non kayu yang batangnya dapat diproses menjadi bahan pulp mutu tinggi (SUGESTY, et al., 1995; SASTROSUPADI dan SAHID, 1996). Pada umumnya kandungan serat batang basah sebesar 9%, sehingga suatu varietas yang kandungan seratnya tinggi, juga menghasilkan batang basah yang tinggi pula. Pengusahaan kenaf masih bertumpu di pulau Jawa yaitu di Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama di lahan bonorowo yaitu lahan di sepanjang daerah aliran sungai yang pada waktu musim hujan tergenang sementara sebagai akibat luapan air sungai dan sedikit di lahan irigasi serta tadah hujan. Tampaknya peluang pengembangan kenaf di pulau Jawa sudah kecil, sehingga perlu dicari lahan alternatif di luar pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pasang surut dan Podsolik Merah Kuning (PMK), khususnya di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur sesuai untuk kenaf (SUDJINDRO dan SASTROSUPADI, 2002). Luas lahan pasang surut di Kalimantan Tengah adalah 5,5 juta hektar (BADAN LITBANG PERTANIAN, 1993), yang dalam bulan-bulan tertentu mengalami genangan sebagai akibat adanya pasang air laut, sehingga dalam periode tertentu mirip dengan lahan bonorowo di pulau Jawa. Berdasarkan fenomena ini maka ada kemungkinan tanaman kenaf juga dapat tumbuh bagus di lahan pasang surut. Kenaf di lahan bonorowo merupakan tanaman yang tidak ada saingannya pada waktu banjir atau tergenang, sehingga dipersiapkan galur-galur hasil persilangan untuk diuji di lahan bermasalah seperti gambut, pasang surut dan podsolik merah kuning. Jurnal Littri 11(3), September 2005. Hlm 107- 111 ISSN 0853-8212