KARAKTERISASI PLASTIK BIODEGRADABLE DARI PATI LIMBAH KULIT PISANG MULI DENGAN PLASTICIZER SORBITOL Endo Pebri Dani Putra dan Hendra Saputra Teknologi Industri Pertanian, Institut Teknologi Sumatera Email: endo.putra@tin.itera.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pati kulit pisang muli terhadap karakteristik film plastik biodegrdable dan untuk mengetahui konsentrasi pati kulit pisang muli terbaik. Perlakuan pada penelitian ini adalah penambahan pati kulit pisang muli 1 g, 1.5 g, 2 g, 2.5 g dan 3 g. Pengamatan pada produk plastik biodegradable yang dihasilkan adalah sifat fisik, sifat mekanik dan degradasi. Uji sifat fisik meliputi uji ketebalan, densitas, penyerapan air dan sifat mekanis termasuk uji kuat tarik, persen perpanjangan dan degradasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi ekstrak perpanjangan berpengaruh terhadap ketebalan, kepadatan, daya serap air, kekuatan tarik, persentase perpanjangan dan degradasi. Perlakuan terbaik berdasarkan sifat mekanik plastik biodegradable adalah penambahan 1 g pati kulit pisang muli. Kata kunci-plastik biodegradable; pati; pisang muli PENDAHULUAN Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah besar limbah organik yang tidak terdegradasi telah dihasilkan, meninggalkan jejak yang tidak diinginkan. Masalah lingkungan ini diperparah oleh kenyataan bahwa ada pertumbuhan permintaan produk plastik yang terus menerus. Sebagai akibatnya, polimer yang dapat diurai secara alami menarik minat yang semakin besar sebagai bahan yang dapat mengurangi dampak lingkungan, limbah dan bahan baku yang dapat diperbarui (Perez et al., 2015). Secara khusus, sejak 2011, pasar untuk plastik biodegradabel ramah lingkungan telah tumbuh secara eksponensial (Byun dan Teck Kim, 2014). Penggunaan kemasan biodegradabel dapat menjadi alternatif sebab kemasan ini berasal dari jenis polimer yang dapat terurai di lingkungan. Plastik biodegradabel merupakan pengganti plastik konvensional yang memiliki kelebihan dapat hancur setelah dibuang ke lingkungan karena terurai oleh aktivitas enzim mikroba. Namun dengan isu menipisnya cadangan minyak bumi maka kemasan biodegradabel akan segera menjadi kompetitif dibanding plastik lainnya. Penggunaan kemasan plastik biodegradabel dapat mengurangi penggunaan minyak bumi sebagai bahan baku plastik sintetik, karena plastik biodegradabel menggunakan bahan baku alami yang digunakan dapat diperbarui (Rieko, 2010). Plastik biodegradable dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya alam seperti pati. Indonesia adalah negara yang sangat potensial untuk dapat memproduksi plastik biodegradable dengan potensi sumber daya pati yang dimilikinya (Fazira, Eliza 2014). Plastik biodegradable dapat digunakan layaknya seperti plastik konvensional, kemudian akan hancur terurai oleh aktivitas mikroorganisme menjadi hasil akhir menjadi air dan gas karbondioksida. Kelebihan lain plastik biodegradable adalah bahan baku yang digunakan dapat diperbarui dan jumlahnya melimpah. Pati adalah salah satu bahan yang paling banyak digunakan dan menjanjikan di pasar plastik biodegradable karena biodegradabilitas, ketersediaan, lebih ramah dan murah (Sprajcar, Horvat dan Krzan, 2013). Salah satu sumber pati yang potensial dijadikan plastik biodegradable yaitu pati limbah kulit pisang. Keberadaan limbah kulit pisang banyak dijumpai dilingkungan sekitar sehingga dapat mencemari lingkungan. Dengan demikian pemanfaatan limbah kulit pisang masih kurang maksimal. Kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioplastik karena kulit pisang mengandung pati (Widyaningsih, dkk 2012). Plastik biodegradable dari pati masih memiliki kekurangan sehingga dibutuhkan zat aditif untuk memperbaiki sifatnya, seperti plasticizer karena dapat meningkatkan elastisitas pada suatu material (Darni dkk, 2009). Kitosan adalah biopolimer sebagai bahan antimicrobial (Mahatmanti, dkk, 2010). Katali (2013), meneliti komposisi kitosan terhadap sifat fisik film kitosan, hasilnya menunjukkan peningkatan kitosan dapat meningkatkan persentase perpanjangan dan meningkatkan