Management Insight, 9 (1): 1-15 1 PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PADA SINISISME TERHADAP PERUBAHAN ORGANISASIONAL DENGAN KEADILAN DISTRIBUTIF SEBAGAI PEMODERASI Mega Asri Zona Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang Abstract. This research used transformational leadership as independent variables which had negative influence on cynicism about organizational change. While distributive justice used as moderated variable that expected to affect the relationship of transformational leadership on cynicism about organizational change. The survey was conducted to 250 employees of PT PLN branch Padang (Rayon Kuranji, Rayon Tabing, Rayon Belanti and Rayon Indarung), PT Telkom area Padang, PT MNC Sky Vision (KPP KPP Padang and Bukittinggi). At least, 202 Questionnaires were collected, but only 187 questionnaires that can be processed. Keywords: Cynicism about organizational change, transformational leadership, distributive justice PENDAHULUAN Latar Belakang Organisasi memerlukan perubahan untuk menjamin terpenuhinya target kinerja yang sudah ada dan yang akan datang dengan lebih efektif dan efisien (Worren, Ruddle, & Moore, 1999). Manajemen perubahan dibutuhkan untuk membantu organisasi dalam memadukan proses konsultasi manusia dengan intervensi teknis yang bertujuan untuk mengubah sistem dan struktur organisasi. Untuk menyukseskan program perubahan, manajemen perubahan memerlukan integrasi semua komponen yang ada di dalam organisasi, dan salah satu faktor yang paling penting adalah manusia. Sikap manusia, dalam hal ini karyawan, terhadap perubahan, berpengaruh signifikan pada perilaku yang ditunjukkan selama perubahan itu berlangsung (Vakola, Tsaousis, & Nikolaou, 2004). Dalam penelitian tersebut dikemukakan bahwa respon karyawan terhadap perubahan dapat dilihat dari sikap yang paling positif (optimis dan tertarik terhadap keberhasilan program perubahan) ke sikap yang paling negatif (penolakan terhadap perubahan). Akan tetapi, Cameron (2008) menyebutkan bahwa sifat dasar manusia akan bereaksi lebih kuat terhadap hal yang bersifat negatif. Jadi, setiap kali organisasi mengadakan perubahan, maka tujuan positif perubahan akan selalu dibayangi oleh respon negatif yang mengarah kepada niat menolak perubahan. Salah satu sikap yang menjadi prediktor dari niat untuk menolak perubahan organisasional adalah sinis. Sinisisme merupakan sikap paling negatif yang bisa ditunjukkan oleh seorang karyawan terhadap organisasi (Dean, Branders, & Dharwadkar, 1998). Akan tetapi, karyawan tidak bisa hanya dibagi menjadi karyawan yang sinis dan tidak sinis, dikarenakan setiap karyawan mempunyai tingkat sinis yang beragam. Sinisisme pada tingkat yang rendah tidak terlalu berdampak pada perubahan, berbeda dengan sinisisme pada tingkat yang lebih tinggi, yang akan berdampak