LIKHITAPRAJNA. Jurnal Ilmiah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN: 1410-8771. Volume. 18, Nomor 2, hal 36-47 _____________________________________________________ Peningkatan Kreativitas Siswa dengan Model Pendidikan Sebaya (Studi Kasus di TMI Al-Amien Prenduan Sumenep) 36 PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA DENGAN MODEL PENDIDIKAN SEBAYA (STUDI KASUS DI TMI AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP) Iwan Kuswandi STKIP PGRI Sumenep iwankus@stkippgrisumenep.ac.id ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana pendidikan sebaya dilaksanakan di lembaga TMI Al-Amien Prenduan? Serta apa saja bentuk peningkatan kreativitas siswa TMI melalui pendidikan sebaya tersebut?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Setelah dilakukan penelitian, maka ditemukan hasil bahwa: Pertama, kegiatan ektrakurikuler yang ada di TMI Al-Amien Prenduan (diistilahkan Kompetensi Pilihan). Para tutornya terdiri dari santri kelas V dan Kelas VI TMI Al-Amien Prenduan. Bahkan mereka juga ada yang menjadi pendidik sebaya pada kegiatan tadarus al-Qur’an dan kegiatan ibadah nawafil lainnya. Kedua, sebagai pendidik sabaya, maka santri Kelas V dan VI TMI termotivasi untuk menjadi teladan bagi adik kelasnya, dengan meraih prestasi perlombaan di bidangnya. Para tutor termotivasi untuk mencetak santri berprestasi, karena nama turornya pasti akan dituliskan juga di laporan Warta Singkat. Santri yang sukses berprestasi di luar pondok, maka nama tutornya juga akan menggema saat acara Apel Tahunan. Kata kunci: kreativitas siswa, pendidikan sebaya PENDAHULUAN Tak ada guru yang ingin siswanya pasif, mereka selalu berusaha untuk menjadikan siswanya aktif dan kreatif. Generasi yang kreatif merupakan sebuah keharusan untuk para siswa saat ini. Cara sekolah bisa lahirkan siswa yang kreatif sebenarnya tidaklah sulit. Generasi kreatif lahir dari guru kreatif yang senang belajar dan haus akan perubahan. Dengan kata lain, guru kreatif akan mudah mencetak siswa kreatif. Pola pikir manusia bermacam-macam. Ada yang biasa berpikir kreatif dan konstruktif, ada juga yang terbiasa dengan pola pikir destruktif. Di samping itu ada yang memiliki pemikiran yang mendalam, ada pula yang berifkir dangkal. Pada dasarnya, perbedaan dalam cara berpikir tersebut merupakan perbedaan dalam hal seberapa besar perhatian seseorang dalam optimalisasi daya intelektual tubuh, dan mentalnya (Uqshari, 2005:1). Diantara berbagai jenis kemampuan di atas, kemampuan berpikir kreatiflah yang mampu mengantarkan manusia pada peradaban modern. Kreativitas merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan. Tumbuhnya kreativitas dalam diri anak 90% tergantung dari guru dan 10% dari lingkungan sebagai penyedia sumber belajar beragam. Guru kreatif akan menciptakan anak didik yang kreatif.