JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 1, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) G8 Abstrak----Pemakaian kapal sebagai sarana distribusi LNG ke berbagai wilayah merupakan salah satu cara yang menguntungkan dan efisien. Penggunaan kapal sebagai sarana distribusi LNG membuat hal-hal yang berhubungan dengan tangki kapal menjadi menarik untuk diteliti. Salah satu yang paling banyak diteliti adalah fenomena sloshing. Simulasi gerakan fluida pada tanki dilakukan dalam time- domain. Gelombang pada saat kapal berlayar di laut tidak dapat diprediksi dengan akurat. Gelombang yang datang dengan sudut hadap 90 o (beam sea) dapat menimbulkan gerakan rolling yang sangat berpengaruh pada gerakan fluida di dalam tangki atau sering disebut fenomena sloshing. Gerakan fluida ini menimbulkan gaya berupa tekanan pada dinding tangki berupa dynamic pressure. Tangki jenis membrane banyak digunakan pada kapal LNG. Sehingga, banyak penelitian yang berkaitan dengan tangki membrane. Tangki membrane dimodelkan 3D dengan menggunakan software maxsurf yang berukuran panjang 32.46 m, tinggi 27.32 m dengan lebar moulded belakang 39.17 m, lebar belakang bagian bawah 31.29 m, lebar belakang bagian atas 31.29 m. lebar moulded depan 39.17 m, lebar depan bagian bawah 31.29 m, lebar depan bagian atas 31.29 m. Volume cairan LNG divariasikan dengan 3 (tiga) ketinggian yaitu ketinggian cairan 30% dari tinggi tangki, 50% dari tinggi tangki, dan 80% tinggi tanki. Analisa dilakukan dengan menggunakan software Ansys Fluent dengan metode Computational Fluid Dynamic (CFD). Dari hasil analisa dengan ansys fluent dapat disimpulkan bahwa dynamic pressure terbesar terjadi pada filling level 30% H dalam tanki yaitu sebesar 16513.720 Pa yang terjadi pada bagian kanan dinding tanki pada ketinggian 8,655 m dari dasar tanki. Kata Kunci : Rolling, CFD Fluent, Tanki Membrane, Kapal LNG, Sloshing I. PENDAHULUAN ANUSIA dan energi mempunyai hubungan yang sangat erat. Manusia sampai dengan revolusi industri hanya menggunakan sebagian kecil energi yang ada di alam yang disebut energi terbarukan (renewable energy). Sejak revolusi industri, dimungkinkan pemakaian energi dalam jumlah besar yang berasal dari batu bara. Memasuki abad 20 pemakaian energi minyak bumi semakin meluas, dan akhir-akhir ini gas alam dan tenaga nuklir telah dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan energi dalam jumlah besar. Masa setelah revolusi industri dapat disebut sebagai era penggunaan energi atau bahan bakar fosil seperti gas alam, minyak bumi dan batubara dalam jumlah besar, yang sampai saat inipun masih berlanjut. Meningkatnya taraf hidup manusia dan besarnya tuntutan terhadap kepraktisan dan kenyamanan hidup membuat kebutuhan terhadap energi semakin besar. Dengan demikian, dibutuhkan sumber energi yang besar pula. Liquid Natural Gas (LNG) muncul sebagai salah satu solusi sumber energi yang menjanjikan, karena rasio persediannya masih lebih baik. Pemakaian kapal sebagai sarana distribusi LNG ke berbagai wilayah merupakan salah satu cara yang menguntungkan dan memiliki efisiensi yang cukup baik. Kekuatan konstruksi kapal dan tangki berkaitan dengan beban gelombang luar yang bersumber dari gelombang air laut akibat gerakan/ motion kapal dan juga beban yang ditimbulkan oleh perilaku fluida dalam tangki yang biasa disebut sloshing. Sloshing adalah sebuah fenomena gerakan osilasi yang memukul dinding muatan oleh cairan di dalam sebuah wadah. Dalam menganalisis gerakan sloshing, usaha yang biasanya dilakukan adalah dengan mencegah arah gerakan cairan yang dapat menyebabkan kerusakan pada suatu struktur. Disisi lain, sloshing mempunyai kemampuan dalam mengurangi besarnya energi kinetik ketika kapal melaju. Untuk alasan tersebut, maka analisis gerakan sloshing dilakukan untuk mengetahui karakteristik gerakan sloshing, vector kecepatan sloshing dan arah sloshing yang berhubungan langsung dengan gerakan kapal diakibatkan gelombang regular sehingga dapat diketahui struktur tangki bagian manakah yang memiliki potensi kerusakan terbesar terutama saat gerakan rolling kapal [1]. Prediksi gerakan linier rolling kapal cukup bagus untuk sudut roll yang kecil <5 o . Untuk sudut besar gerakan linier rolling tidak akurat lagi, sehingga harus menggunakan gerakan non linier rolling meskipun penyelesaian agak rumit. Berdasarkan prinsip gerakan linier rolling, setelah kapal mengalami gaya eksitasi maka kapal akan mendapatkan amplitude sesaat, setelah itu karena adanya efek damping kapal akan mengalami osilasi menuju frequensi gelombang. Sedangkan untuk gerakan non linier rolling dengan adanya variasi kecil eksitasi pada titik restoring dapat menyebabkan kapal capsizing dengan kata lain capsizing terjadi pada gerakan non linier rolling, gerakan ini terdiri dari dua komponen non linier yaitu non linier damping dan restoring [2]. Analisis Sloshing 2D pada Dinding Tangki Tipe Membran Kapal LNG Akibat Gerakan Rolling di Gelombang Regular Ericson Estrada Sipayung, I Ketut Suastika, Aries Sulisetyono Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: k_suastika@na.its.ac.id M