1 STUDI TOMOGRAFI SEISMIK UNTUK MENENTUKAN MODEL KECEPATAN GELOMBANG P DAERAH BALI Siti Hidayatunnisak 1 , Adi Susilo 2 , Muhajir Anshori 3 1) Jurusan Fisika FMIPA Univ. Brawijaya 2) BMKG Tretes Email: hidayah_physics10@yahoo.co.id Abstract Pulau Bali merupakan salah satu kawasan dengan tingkat seismisitas yang tinggi karena dipengaruhi oleh 2 generator utama gempabumi yaitu zona subduksi di bagian selatan dan aktifitas Back Arc Thrust di bagian utara. Pada studi penelitian ini diterapkan tomografi travel time gelombang P untuk mencitrakan struktur bawah permukan daerah Bali menggunakan 130 event gempabumi dangkal yang tercatat pada 6 stasiun Jaringan Ina Tews BMKG periode 2009 – 2014. Pemodelan forward dan invers dilakukan secara iteratif sehingga diperoleh sebuah model kecepatan dengan nilai travel time hasil perhitungan yang paling sesuai dengan nilai travel time observasi. Berdasarkan uji resolusi checkerboard didapatkan nilai resolusi tomogram sebesar 0.5 0 x0.5 0 . Citra tomogram kecepatan gelombang P menunjukkan nilai yang relatif besar berada di wilayah selatan karena daerah tersebut mengalami kompresi akibat tumbukan Lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia. Kecepatan rendah berada pada bagian utara membujur arah barat laut – tenggara berasosiasi dengan struktur Back Acr Thrust. Kata kunci: Tomografi, Gelombang P, Subduksi, Back Arc Thrust Pendahuluan Wilayah Pulau Bali merupakan bagian dari kerangka sistem tektonik Indonesia yaitu zona pertemuan lempeng tektonik, dimana lempeng Indo- Australia menyusup di bawah lempeng Eurasia secara konvergen. Proses subduksi tersebut menghasilkan efek berupa struktur geologi sesar aktif di wilayah Pulau Bali dan sekitarnya, sehingga Pulau Bali termasuk kategori kawasan dengan tingkat aktifitas kegempaan yang tinggi. Berdasarkan keadaan tektonik tersebut aktifitas kegempaan di daerah Pulau Bali sangat dipengaruhi oleh dua generator gempabumi yaitu aktifitas subduksi lempeng dan aktifitas sesar naik di belakang busur atau biasa disebut (Back Arc Thrust) [2]. Gambar 1 Seismisitas Pulu Bali periode tahun 2009-2014 Berdasarkan rekap data hasil pemantauan gempabumi Bali dan sekitarnya rata-rata dalam sehari terjadi gempabumi sebanyak 5 hingga 10 kali dengan berbagai variasi magnitude dan kedalaman. Sedangkan setahun dapat terjadi gempabumi rat-rata 1000 hingga 2000 kali. Catatan sejarah gempabumi merusak hingga 60 kali dan sebagian besar terjadi di kawasan tidak padat penduduk. Tetapi tetap saja korban yang jatuh dalam jumlah besar. Bencana gempabumi dahsyat yang populer oleh masyarakat adalah Gejer Bali tahun 1815. Bencana tersebut menelan korban jiwa yang cukup besar , 10.253 orang tewas [2]. Berdasarkan fakta tersebut penelitian mengenai kondisi struktur bawah permukaan di daerah Bali menjadi penting untuk dilakukan. Terdapat beberapa macam metode geofisika yang dapat digunakan untuk mencitrakan struktur bawah permukaan bumi seperti metode seismik tomografi, surface wave group velocity, arrayseismology, dan receiver function. Diantara sekian metode, metode seismik yang paling sering digunakan. Tomografi seismik travel time merupakan salah satu metode untuk merekonstruksi struktur bawah permukaan bumi dengan data-data seismik yang terekam pada receiver yang memanfaatkan data waktu tempuh gelombang. Konsep dasar metode tomografi travel time adalah menggambarkan kondisi struktur bumi bawah permukaan dengan melakukan pemodelan forward dan invers yang dilakukan secara berulang hingga diperoleh data travel time hasil perhitungan