61 Wieke Mei Dina et al.: Insidensi dan Sebaran Tungau Hama pada Pepaya di Pulau Lombok ... Insidensi dan Sebaran Tungau Hama pada Pepaya di Pulau Lombok (Incidence and Distribution of Mites on Papaya in Lombok Island) Wieke Mei Dina 1) , Sugeng Santoso 2) , dan Tri Asmira Damayanti 2) 1) Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram, Badan Karantina Pertanian, Jln. Raya Pelabuhan No.09, Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Indonesia 83364 2) Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jln. Kamper Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680 E-mail: wiekemei@gmail.com Diterima: 25 Maret 2021; direvisi: 19 Mei 2021; disetujui: 3 Juni 2021 ABSTRAK. Tungau hama merupakan salah satu penyebab penurunan produksi pepaya di Pulau Lombok. Penelitian bertujuan menentukan insidensi, sebaran, dan identitas tungau hama pepaya di Pulau Lombok. Sebaran ditentukan berdasarkan insidensi tungau hama pada 50 lokasi pengambilan contoh dan tungau hama diidentifkasi secara morfologi dan molekuler berdasarkan runutan rDNA ITS2. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 spesies tungau berdasarkan identifkasi morfologi, yaitu Aculops pelekassi, Calacarus carinatus, Brevipalpus californicus, B. obovatus, B. phoenicis, Tenuipalpus pasifcus, Eutetranychus africanus, Panonychus citri, Tetranychus fjiensis, T. kanzawai, T. piercei, dan Tarsonemus bilobatus dengan insidensi berkisar antara 2–72%. Di antara spesies yang ditemukan, P. citri merupakan tungau hama dengan sebaran dan insidensi tertinggi (72%). Hasil analisis persebaran menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies tungau hama pada tanaman pepaya di Pulau Lombok adalah tinggi dengan tingkat dominansi rendah dan tingkat kemerataan spesies yang tinggi. Uji PCR dan analisis runutan DNA berhasil mendeteksi dan mengidentifkasi enam spesies tungau hama, yaitu T. piercei, T. kanzawai, E. africanus, dan P. citri (Tetranychidae), pada 500–600 pb serta B. californicus dan B. phoenicis (Tenuipalpidae) pada 600–700 pb. Similaritas tertinggi ditemukan pada T. piercei dan T. kanzawai (100%). Ini merupakan laporan pertama keberadaan B. californicus sebagai hama pada tanaman pepaya di Pulau Lombok. Kata kunci : Frekuensi kemunculan; PCR; Perunutan DNA; Sebaran ABSTRACT. Mites are one obstacle of papaya production in Lombok Island. Thus, the aim of research was to determine incidence, distribution and identity of mites on papaya plant in Lombok Island. Distribution is determined based on incidence of in 50 sampling area, while mites identifed morphological and molecularly based on rDNA ITS2. This studies revealed that there were 12 species of mites based on morphological, namely Aculops pelekassi, Calacarus carinatus, Brevipalpus californicus, B. obovatus, B. phoenicis, Tenuipalpus pacifcus Eutetranychus africanus, Panonychus citri, Tetranychus fjiensis, T. kanzawai, and T. pierce with an incidence ranging 2-72%. Among species found, P. citri has the highest distribution and incidence of 72%. The results of the distribution analysis showed that diversity of mite species was high, with low dominance and high evenness. PCR assay successfully amplifed DNA of six species, namely T. piercei, T. kanzawai, E. africanus, P. citri with the DNA size of 500-600 bp and B. californicus, B. phoenicis with the DNA size of 600-700 bp. The highest similarity species was found on T .piercei and T. kanzawai (100%). This was the frst report of B. californicus infestating on papaya in Lombok. Keywords : Distribution; Frequency of occurrence; PCR; DNA Tanaman pepaya tumbuh subur di Indonesia, dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi hingga ketinggian 1.000 m dpl. India merupakan produsen pepaya tertinggi pada tahun 2008 – 2010, dengan menyediakan 38,61%, Brasil 17,5%, dan Indonesia 6,89% kebutuhan pepaya dunia (National Institute of Plant Health Management 2014). Produktivitas pepaya Indonesia berdasarkan perbandingan rata-rata hasil produksi dan luas panen (ton/ha) mengalami fuktuasi dari tahun 2015 – 2019, yaitu 91,69; 88,94; 81,31; 69,82; dan 76,80 ton/ha (Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI 2020). Produksi pepaya Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu yang tinggi selain Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Lampung. Produksi buah pepaya di NTB tahun 2014 – 2019 mencapai masing-masing 11.216, 11. 311, 7.779, 10.300, 11.910, dan 12.906 ton. Produksi buah pepaya di Provinsi NTB terendah adalah pada tahun 2016, dan kembali meningkat pada tahun 2017 hingga tahun 2019 (Badan Pusat Statistik 2020). Salah satu penyebab menurunnya produksi pepaya adalah karena serangan hama dan penyakit tanaman. Beberapa hama penting pada pepaya di antaranya adalah Pseudaulacaspis pentagona, Paracoccus marginatus serta beberapa jenis tungau hama di antaranya adalah Eutetranychus orientalis, E. banksi, Eotetranychus lewisi, Brevipalpus californicus, B. obovatus, B. phoenicis, Polyphagotarsonemus latus, Tetranychus urticae, T. cinnabarinus, T. kanzawai, T. desertorum, T. gloveri, T. ludeni, T. marianae, T. mexicanus, P .citri, Calacarus carinatus, C. fagelliseta, dan C. citrifolii (De Mendonça et al. 2011; Abato-Zárate et al. 2014;