Ike Sitoresmi M Purbowati, Khaswar Syamsu, Endang Warsiki, Herastuti Sri Rukmini J Tek Ind Pert. 25 (2): 182-189 183 EVALUASI TOKSISITAS, AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIOKSIDAN KOMPONEN BIOAKTIF ROSELA DENGAN VARIASI JENIS PELARUT EVALUATION ON TOXICITY, ANTIBACTERIAL AND ANTIOXIDANT CAPACITY OF ROSELLE BIOACTIVE COMPOUNDS WITH VARYING SOLVENTS Ike Sitoresmi M Purbowati 1)* , Khaswar Syamsu 2) , Endang Warsiki 2) , Herastuti Sri Rukmini 1) 1) Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Jalan Dr. Suparno , Karangwangkal, Purwokerto 53123, Indonesia* Email: Ikesitoresmi@yahoo.co.id 2) Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor,. Makalah: Diterima 17 April 2014; Diperbaiki 3 September 2014; Disetujui 10 September 2014 ABSTRACT The toxicity, antibacterial and antioxidant activity of Hibiscus sabdariffa extract was investigated in this study. Extraction was carried out using 70%ethanol, ethyl acetate, and hexane. Qualitative method was used to determine the phytochemical calyx content, Brine Shrimp Lethality for toxicity test, antibacterial test was done against Staphylococcus aureus and Escherichia coli were using disc diffusion method. Total antioxidant activity determination by the ferric thiocyanate method. The results showed that bioactive compounds in roselle calyx were flavonoid, phenolic, tannin, alkaloid, and steroid. Seventy percent ethanol could extract higher phenolic (19.45 + 0.32 mg/g) compared to ethyl acetate and hexane, which were only extract 7.51 + 0.49 mg/g and 2.73+ 0.31 mg/g respectively, therefore 70% ethanol more effective compared to the other solvent. The 70% ethanol extract showed the highest activity (510.613μg/mL) compare to ethyl acetate (1241.983μg/mL) and hexane (1718.446μg/mL) respectively. Seventy percent ethanol and ethyl acetate extract also had antibacterial activity. Inhibition zone against Staphylococcus aureus 7.7 + 2.01 mm and 7.53 + 2.19 mm and against Escherichia coli 13.28 + 3.30 mm, 12.35 + 3.13 mm respectively. There was no inhibitory zone for crude hexane extract. The antioxidant activity of 70% ethanol (439.3270 μL/mL) higher than hexane (587.916μL/mL) and ethyl acetate (481.392 μL/mL). Keywords: antioxidant activity, antibacterial activity, Hibiscus sabdariffa, toxicity, ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh jenis pelarut terhadap karakteristik toksisitas, aktivitas antibakteri dan antioksidan ekstrak bunga rosela menggunakan pelarut etanol 70%, etil asetat dan heksan. Metode kualitatif digunakan untuk penentu kandungan fitokimia dalam ekstrak, Brine Shrimp Lethality untuk uji toksisitas, dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menggunakan metode difusi cakram, dan aktivitas antioksidan dengan metode Ferric-Thiocyanate. Hasil penelitian menunjukan bahwa senyawa bioaktif yang terekstrak dari kelopak bunga rosela adalah flavonoid, fenols, tanin, alkaloid, dan steroid. Pelarut etanol 70% lebih efektif mengekstrak fenols (19,45 + 0,32 mg/g) dibandingkan etil asetat (7,51 + 0,49 mg/g) dan heksan (2,73+ 0,31 mg/g). Ekstrak etanol bersifat toksik, ditunjukan dengan nilai LC 50 dibawah 1000 µg/L, yaitu 510,613 µg/L, dibandingkan etil asetat (1241,983 µg/L) dan heksan (1718,446 µg/L). Ekstrak etanol 70% dan etil asetat memiliki aktivitas antibakteri ditunjukkan dengan zona penghambatan dengan nilai sebesar 7,7 + 2,01 mm dan 7,53 + 2,19 mm untuk aktivitas terhadap terhadap S aureus. Zona bening yang terbentuk melawan pertumbuhan E coli adalah 13,28 + 3,30 mm, 12,35 + 3,13 mm. Nilai IC 50 ekstrak etanol 70%, etil asetat dan heksan berturut turut adalah 439,32 µL/mL; 587,916 µL/mL;481,392 µL/mL. Kata kunci: aktivitas antibakteri, antioksidan, bunga rosela, toksisitas PENDAHULUAN Penyakit yang disebabkan infeksi mikroorganisme biasanya ditanggulangi dengan pemberian antibiotik. Sayangnya, hal ini akan menimbulkan semakin meningkatnya dosis obat yang diperlukan dan efek samping yang tidak diinginkan, seperti hipersensitivitas, reaksi alergi dan peningkatan imun mikroorganisme. Situasi ini mendorong pemikiran alternatif obat antimikroba lain yang dirasakan lebih aman. Rosela selama ini dikenal sebagai tanaman penghasil serat. Namun seiring dengan makin maraknya slogan back to nature dikalangan masyarakat, pamor rosela pun ikut terangkat. Tanaman ini digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi tekanan darah tinggi, penyakit lever dan demam (Mazza dan Miniati, 1993; Wang et al., 2000; Tsai et al., 2002). Hal ini disebabkan rosela memiliki kandungan senyawa Jurnal Teknologi Industri Pertanian 25 (2):182-189 (2015) *Penulis untuk korespondensi