738 Realistic Mathematics Education untuk Meningkatkan Kemandirian Belajar Matematika Renika Arisinta 1 , Abdur Rahman As’ari 2 , Cholis Sa’dijah 2 1 Pendidikan Dasar-Universitas Negeri Malang 2 Pendidikan Matematika-Universitas Negeri Malang INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 24-04-2019 Disetujui: 22-06-2019 Abstract: This study aims to describe the Realistics Mathematics Education (RME) approach in increasing the independence of students' mathematics learning in the material area and around square and rectangle. This type of research was classroom action research. The subject of this study were fourth grade students of Elementary School consisting of 29 students. Learning devices in this study were Learning Implementation Plans and Group Worksheets while the instruments used in this study are observation sheets of student learning independence, teacher observation sheets, questionnaires, and interview guidelines. The results of the study showed that the RME approach that was packaged by giving problems in the form of written or unwritten stories that enabled students to find different solutions/answers and using manipulative media could improve student learning independence with the average student categorized well. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendekatan Realistics Mathematics Education dalam meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa pada materi luas dan keliling persegi dan persegi panjang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas IV yang terdiri dari 29 siswa. Perangkat pembelajaran pada penelitian ini yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Lembar Kerja Kelompok, sedangkan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi kemandirian belajar siswa, lembar observasi guru, angket, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan RME yang dikemas dengan pemberian permasalahan berupa cerita secara tertulis maupun tidak tertulis yang memungkinkan siswa menemukan berbagai solusi/jawaban yang berbeda- beda dan menggunakan media manipulatif dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa dengan rata-rata siswa berkategori baik. Kata kunci: realistics mathematics education; self- regulated; mathematics; realistics mathematics education; kemandirian belajar; matematika Alamat Korespondensi: Renika Arisinta Pendidikan Dasar Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: arisinta.sinta@gmail.com Matematika dapat memberikan kesenangan dan kenyamanan serta bermakna bagi siswa jika siswa menyadari bahwa matematika adalah alat untuk memecahkan masalah (Papadakis, 2017). Siswa yang yakin bahwa matematika merupakan alat dalam memecahkan permasalahannya akan memiliki kemauan untuk belajar matematika (Laurens, 2018) lalu menumbuhkembangkan sikap kemandirian belajar siswa. Siswa dapat menyadari hal tersebut, guru harus mengetahui dan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sehingga guru dapat membantu siswa dalam mempelajari pengalaman yang akan dipelajarinya (Sa’dijah, 2011). Kemandirian belajar memungkinkan siswa untuk merencanakan dan mengatur informasi linguistik, untuk memahami hubungan antara konsep, dan kemudian memilih operasi aritmatika dengan benar sehingga siswa dapat mengembangkan kemandirian belajar yang lebih besar daripada kemampuan akademik (Vula et al., 2017). Kemandirian merupakan salah satu faktor terpenting yang memengaruhi keberhasilan akademik siswa (Prayekti, 2015; Bozpolat, 2016). Selain itu, kemandirian dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang tidak bergantung dengan orang lain dalam menyelesaikan permasalahan terkait tugas belajarnya (Kemendiknas, 2010). Dengan demikian, perlunya guru dalam mengembangkan kemandirian belajar siswa karena memiliki manfaat jangka panjang pada siswa di masa datang. Hasil wawancara guru kelas IV pada tanggal 25 Agustus 2018 di SDN Sumbertaman I Probolinggo terkait kemandirian belajar siswa ketika mengerjakan tugas kelompok pada pelajaran Matematika didapatkan hasil bahwa (1) siswa kurang memperhatikan pembelajaran matematika terutama pada materi luas dan keliling bangun datar; (2) siswa kurang berani dalam mengutarakan pendapatnya dan bertanya kepada guru ataupun teman; (3) penugasan yang diberikan guru kurang memberikan kesempatan siswa untuk menemukan jawaban dalam berbagai cara ataupun jawaban; (4) guru jarang memberikan tugas kelompok kepada siswa; (5) selama pemberian tugas secara berkelompok, masih terdapat siswa yang kurang berusaha dalam mengerjakan Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 4 Nomor: 6 Bulan Juni Tahun 2019 Halaman: 738746