Jurnal Seni Nasional CIKINI Volume 5 No. 2, Desember 2019-Mei 2020 22 REPRESENTASI PASAR TUMPAH DI SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI REALITAS SOSIAL DALAM KARYA SKETSA Ardiant Permata Ayu, M.Sn.; Hafd Alibasyah, M.Sn. ardiantipermata@senirupaikj.ac.id; hafidalibasyah@senirupaikj.ac.id Abstrak Pasar tumpah dapat dikatakan sebagai fenomena sosial yang terjadi di ruang publik, juga dapat digolongkan sebagai pasar tradisional yang mempunyai relasi langsung dengan realitas kemasyarakatan, menyajikan barang jualan dengan tanpa berhias---spontan, jujur, apa adanya, tdak memikirkan penataan atau display tertentu---, bersifat arbitrer, dalam ruang temporal karena tdak permanen, bahkan terkadang menunjukkan adanya kontestasi dalam keberlangsungannya. Adapun segala bentuk permasalahan yang ditmbulkan---kemacetan, mengotori lingkungan--- tetap membuat kegiatan ini terus berlangsung dan menjamur di pelbagai daerah. Dalam hal ini konteks-konteks sosial, sepert relasi kuasa dan ‘supply-demand’ dihubungkan dengan waktu dan peristwa, ikut berperan dalam membangun pasar tumpah. Studi ini mengkaji pergulatan konteks sosial yang terjadi di pasar tumpah khususnya di Jalan Suryakencana, kota Bogor. Adapun realita dan konteks sosial yang ada di pasar tumpah tersebut menjadi dasar bagi pengamatan kesenirupaan, sebagai konsep visual, yang akan direpresentasikan ke dalam penciptaan karya seni visual yaitu sketsa. Metode penelitan yang digunakan yaitu kualitatf, yang dilakukan melalui observasi langsung dan studi literatur dengan pendekatan kajian budaya. Kata Kunci: pasar tumpah, ruang publik, relasi kuasa, representasi visual Abstract Spilled markets can be reported as social phenomena that occur in public spaces, can also be classifed as traditonal markets that have a direct relatonship with social reality, provide merchandise without being decorated --- spontaneously, honestly, as is, cannot be structured or certain appearance - -, actve arbitrator, in the temporal space because it is not permanent, even on the contrary shows the existence of contestaton in its sustainability. Everything that happens because of its actvity--- trafc jams, pollutng the environment --- keeps this actvity going and mushrooming in various regions. In this context, social contexts, such as ruling relatons and ‘requests’ with consideraton and interacton, partcipate in the constructon of spilled markets. This study examines the social context that occurs in the intercropping market on Jalan Suryakencana, Bogor city. As reality and social in the spilled market become the basis for the assessment of artstry, as a visual concept, which will be represented in art works, namely sketches. The research method used is qualitatve, which is done through direct observaton and literature studies with cultural studies. Keywords: Spilled market, public space, power relatons, visual representaton.