JURNAL PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan) Vol. 22 No.1 Juni 2021 87 DOI: http://dx.doi.org/10.31346/jpikom.v22i1.3398 GAP KOMUNIKASI ANTARGENERASI DALAM PENGELOLAAN RADIO KOMUNITAS DI WILAYAH URBAN CROSS-GENERATIONAL COMMUNICATION GAP IN COMMUNITY RADIO MANAGEMENT IN URBAN AREA Diana Anggraeni 1 , Sarwititi Sarwoprasodjo 2 , Amiruddin Saleh 3 , dan Andi Faisal Bakti 4 1 Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB 2, 3 Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, FEMA IPB University 4 Fakultas Komunikasi dan Dakwah. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dianaanggraeni@univpancasila.ac.id Diterima: 10 September 2020 Direvisi: 21 Oktober 2020 Disetujui: 19 Mei 2021 ABSTRACT A community radio station was set up to serve the interests and needs of the community. However, along with its development, community radio can not be fully run based on the concerns of its members. It must adapt to major challenges in order to survive. The research was conducted at the Dapur Remaja Community Radio (RKDR) in Cinangka, Sawangan, Depok, West Java. The aim of this research is to address the cross- generational communication gap that occured after the second-generation manager has led the station. The critical constructivist research paradigm was used in this study. Data was collected using FGDs, in-depth interviews, and field observations. The results of the study found that there was a communication gap between younger community radio managers and older community members, due to changes in social and cultural communication patterns, which affected their understanding of community radio management. The younger managers are considered less accommodative towards existing community activities and are more interested in finding ways to make community radio more profitable, so that community engagement, values and interests are understated. Keywords: Community Radio Management, Communication Gap between Generations, Community Engagement ABSTRAK Radio komunitas didirikan untuk melayani kepentingan dan kebutuhan komunitas. Akan tetapi, dalam perkembangannya, radio komunitas tidak dapat sepenuhnya beroperasi sesuai aspirasi anggotanya. Radio komunitas juga harus beradaptasi dengan beragam perkembangan agar dapat mempertahankan kelangsungan eksistensinya. Penelitian yang dilakukan di Radio Komunitas Dapur Remaja (RKDR) di Cinangka, Sawangan, Depok, Jawa Barat ini bertujuan untuk mengkaji gap komunikasi antargenerasi dalam pengelolaan radio komunitas di perkotaan setelah generasi kedua memimpin manajemen. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis kritis. Pengumpulan data dilakukan melalui FGD, wawancara mendalam, dan observasi lapangan. Hasil penelitian menemukan bahwa terjadi gap komunikasi antara pengelola baru dengan anggota komunitas lama, yang disebabkan adanya perubahan pola interaksi komunikasi secara sosial dan budaya, yang berdampak pada perbedaan pemahaman mengenai pengelolaan radio komunitas. Pengelola radio komunitas, yang merupakan generasi muda, dianggap kurang mengakomodasi kegiatan komunitas sebelumnya dan lebih fokus memikirkan strategi baru untuk mendulang profit dari radio komunitas, sehingga partisipasi komunitas, nilai-nilai dan kepentingan komunitas kurang diperhatikan. Kata Kunci: Pengelolaan Radio Komunitas, Gap Komunikasi Antargenerasi, Partisipasi Komunitas