Info Artikel: Diterima: 15/10/2018 Direvisi: 28/11/2018 Dipublikasikan: 31/12/2018 110 JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) ISSN Cetak: 2477-8524-ISSN Online: 2502-8103 http://jurnal.iicet.org | DOI : https://doi.org/10.29210/02018190 Volume 3 Nomor 2, 2017, hlm 110-117 Dipublikasikan oleh: Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET) Tingkat Kecanduan Internet pada Remaja Awal Ayu Permata Sari 1 , Asmidir Ilyas 2 , Ifdil Ifdil 3 123 Universitas Negeri Padang Abstract This study shows that there are students who have an Internet addiction. Addictions possessed by students will certainly have a negative impact on self, social relationships and learning outcomes. This study aims to describe: 1) The level of Internet addiction in general 2) The core symptoms of Internet addiction in early adolescents 3) Problems related to Internet addiction in early adolescence. Quantitative research method with the quantitative descriptive approach. The population of this study is 596 students of SMA N 7 Padang and a sample of 240 students selected by proportional random sampling technique. The results revealed: 1) The rate of internet addiction in early adolescence is generally mostly in the moderate category with a percentage of 50%, 2) The core symptoms of Internet addiction in early adolescence are mostly in the high category with a percentage of 43%, consisting of indicators of compulsive symptoms, withdrawal symptoms and tolerance symptoms. 3) Internet-related addiction problems in early adolescence were mostly in the moderate category with a 49% percentage consisting of two interpersonal indicators & health problems and time management problems. Keywords: addiction, internet, counseling This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. ©2017 by author and Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET). PENDAHULUAN Masa remaja merupakan periode dimana individu meninggalkan masa anak-anak memasuki masa dewasa. Oleh sebab itu periode remaja dapat dikatakan periode masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini individu banyak mengalami tantangan dalam proses perkembangan, baik dari dalam diri maupun dari luar terutama lingkungan sosial (Prayitno, 2006). Secara psikologis masa remaja merupakan masa untuk berintegrasi dengan orang disekitarnya. Pada masa ini remaja tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua tetapi berada dalam tingkatan yang sama, terutama dalam masalah hak (Hurlock, 1980). Menurut pakar psikologi, yang dimaksud dengan remaja adalah individu yang berada pada rentangan umur antara 13 sampai 21 tahun. Sedangkan awal masa remaja bermula dari umur 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun dan akhir masa remaja berawal dari 17 tahun sampai 18 tahun (Hurlock, 1980). Pada periode ini, individu tidak hanya dituntut untuk bersosialisasi dengan keluarga, namun juga dengan masyarakat sehingga individu dapat berbaur dan menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dimasyarakat (Prayitno, 2006). Masa remaja ditandai dengan perubahan-perubahan diantaranya kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis, pencarian identitas diri serta membentuk hubungan baru (Santrock, 1998). Menurut Prayitno (dalam Utami, Ahmad, R & Ifdil, 2017), pada periode ini individu tidak hanya dituntut untuk bersosialisasi dengan keluarga, namun juga dengan masyarakat sehingga individu dapat berbaur dan menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dimasyarakat. Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri remaja, remaja juga dihadapkan pada tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya. Apabila tugas-tugas perkembangan tersebut bisa dijalankan dengan baik, maka akan tercapai suatu kepuasan, kebahagiaan dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan remaja dalam menjalani tugas-tugas perkembangan tersebut akan berpengaruh pada keberhasilan remaja untuk memenuhi tugas perkembangan pada fase berikutnya (Retnowati, 2016). Namun,