Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 05 No. 3, Desember 2014, Hal 174-180 ISSN: 2086-8227 PERTUMBUHAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) DALAM SISTEM TEBANG PILIH TANAM JALUR DI AREAL IUPHHK-HA PT. SARPATIM, KALIMANTAN TENGAH The Growth of Red Meranti (Shorea leprosula Miq.) with Selective Cuttingand Line Planting in areas IUPHHK-HA PT. Sarpatim Central Kalimantan Prijanto Pamoengkas, Rahmat Prasetia Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB ABSTRACT Shorea leprosula is a fast growing plant species in Borneo and has a tree structure that is straight and cylindrical, so this type are widely used in the production of plywood, furniture, and construction. Many of requests for production of red meranti (S. leprosula Miq) but the population continues to decline due to logging. Through the application of silvicultural techniques TPTJ with Intensive silvicultural in logged-over forest areas, the activities can be regarded as an effort to increase productivity and conservation. In an effort to realize the sustainability of the production function, then the success of the planting in the pathway is one important factor to be evaluated plant growth or productivity. In general, growth diameter plants of S. leprosula grown in line with TPTJ system in PT. SARPATIM plants 1 and 2 years of growth diameter distribution of age have not normal, while the old plants 3 and 4 years had a normal of distribution diameter growth here the number (frequency) of individuals (plants) found in many classes that represent the mean (average) of diameter stand, and diameter growth curvein the juvenile period.Growth of S. leprosula on track from age 1 to age 4 years to reach an average diameter increment (MAI) is the highest at the age of 1 year is equal to planting 1.54 cm/year and the lowest planted at the age of 3 years, which is 1 cm/year. Largest diameter found in the age of 4 years of planting 10.5 cm (mean 5.23 cm). Keyword : diameter, growth, production of natural forest, TPTJ silvicultural system, Shorea leprosula PENDAHULUAN Hutan dapat diambil hasilnya, baik berupa kayu maupun non kayu yang dapat dilakukan dengan cara perizinan serta syarat dan ketentuan khusus, yaitu dapat berupa IUPHHK-HA maupun IUPHHK-HT. Jaminan kelestarian produksi hutan harus ditentukan cara dan saat penebangan (exploitasi) serta permudaannya berdasarkan sistem silvikultur yang sesuai dengan keadaan hutan baik, dilihat dari segi komposisi struktur dan keadaan ekologisnya. Dalam pelaksanaannya sistem silvikultur dibagi menjadi empat yaitu sistem silvikultur tebang pilih tanam indonesia (TPTI), tebang pilih tanam jalur (TPTJ), sistem silvikultur tebang rumpang (TR), dan tebang habis permudaa buatan (THPB). Penerapan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) merupakan salah satu kegiatan pemanfaatan hutan dengan memperhatikan aspek kelestarian. Dalam perancangannya, dengan teknik silvikultur intensif (silin) mengharuskan adanya penanaman pada hutan pasca penebangan secara jalur, dengan lebar antar jalur 20 m, didalamnya dibuat jalur tanam selebar 3 m dan jalur antara yang merupakan tegakan alam selebar 17 m. Dalam prakteknya, sistem silvikultur TPTJ belum pernah teruji sampai pada daur terakhir. Oleh karena itu perlu diadakan evaluasi terhadap keberlangsungan penerapan sistem silvikultur TPTJ yang sedang berjalan saat ini, sehingga pada saat daur terakhir dapat dinilai apakah dengan diterapkanya sistem silvikultur TPTJ dapat menjaga kelestarian produktifitas hutan. Dalam upaya mewujudkan kelestarian fungsi produksi, maka keberhasilan penanaman dalam jalur merupakan salah satu faktor penting untuk dievaluasi pertumbuhannya atau produktivitas tanamannya. Produktivitas tanaman ini dapat diukur salah satunya adalah melalui pertumbuhan diameter, disamping karena mudah pelaksanaannya juga memiliki keakuratan dan konsistensi cukup tinggi. Oleh karena itu pertumbuhan diameter dapat digunakan untuk men- jelaskan produktivitas tanaman (pohon) (Pamoengkas 2006). Meranti merah (Shorea leprosula Miq) merupakan jenis tanaman yang cepat tumbuh di Kalimantan dan memiliki struktur batang pohon yang lurus dan silindris sehingga jenis ini banyak digunakan dalam produksi kayu lapis, kayu mebel, maupun kayu pertukangan. Begitu banyaknya permintaan untuk produksi kayu meranti merah, tetapi disisi lain jumlah populasinya terus mengalami penurunan akibat penebangan. Melalui penerapan sistem silvikultur TPTJ dengan teknik silin pada areal hutan bekas tebangan, maka kegiatan ini dapat dikatakan sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas dan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertum- buhan diameter tanaman S. leprosula berumur 1-4 tahun yang dibudidayakan pada lahan hutan produksi alam melalui sistem silvikultur TPTJ.