18 Jurnal Penelitian Keperawatan Medik Vol. 2 No. 1 Edition: May – October 2019 http://ejournal.delihusada.ac.id/index.php/JPKM Received: 16 October 2019 Revised: 18 October 2019 Accepted: 24 October 2019 PENGARUH PEMBERIAN BELIMBING DAN MENTIMUN TERHADAP PENDERITA HIPERTENSI DI DESA LAU KERSIK KECAMATAN GUNUNG SITEMBER KABUPATEN DAIRI Herri Novita Br Tarigan, Prista Hotmarina Purba Institut Kesehatan Deli Husada, Jl. Besar Deli Tua No.77 e-mail: herrinovita80@gmail.com Abstract Hypertension is a disease that is not uncommon in the community, including the Bukit Lau Kersik village. People with hypertension often do not show long-term symptoms and can be life- threatening. However, one of the management of hypertension that can be used as non- pharmacological therapy is consuming starfruit juice and cucumber which is quite easy to find in the Bukit Lau Kersik village. This combination of juices contains potassium which can reduce blood pressure in patients with hypertension. This study used Equivalent Time Sample Design with 14 subjects with hypertension in the Bukit Lau Kersik Village, Gunung Sitember Subdistrict, Dairi District. The technique of this research sample used Non-Probability Sampling with Saturated Sampling. The instrument used was a sphygmomanometer and a stethoscope. Bivariate data analysis in this study was the Wilcoxon statistical test. Based on the data analysis performed, the value of p is 0.011 < 0.05 was obtained, meaning that there was a significant relationship between giving star fruit juice and cucumber to hypertensive patients. Then it can be concluded that there is an influence between giving star fruit and cucumber juice to blood pressure reduction in hypertensive patients in Bukit Lau Kersik Village Gunung Sitember Subdistrict, Dairi District in 2019. Suggestion: The factors that affect blood pressure in hypertensive patients and checking blood pressure before drinking star fruit juice and cucumber. Keywords: hypertension, starfruit juice, cucumber juice 1. PENDAHULUAN Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah dari arteri yang tidak teratur dan berlangsung lama secara terus-menerus. Hipertensi adalah penyakit yang paling umum ditemukan di masyarakat dan penyakit ini sering disebut “The Silent Killer” atau pembunuh diam-diam dikarenakan penderita hipertensi sering tidak menunjukkan gejala jangka panjang dan dapat mengakibatkan komplikasi yang mengancam nyawa. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi yang permanen (Lingga, 2012). Jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang membesar. Pada 2025 mendatang, diproyeksikan sekitar 29 persen warga dunia terkena hipertensi. Persentase jumlah penderita hipertensi saat ini paling banyak terdapat di negara berkembang. Hipertensi telah membunuh sekitar 9,4 juta warga dunia setiap tahunnya (WHO, 2010). Sekitar 972 juta orang atau sekitar 26,4% penderita hipertensi dengan perbandingan wanita sekitar 26,1% dan pria sekitar 26,6%. Sedangkan di seluruh Indonesia, kasus hipertensi 8 dari 33 provinsi kasus sudah melebihi rata-rata nasional, yaitu: Sumatera Barat (27%), Sulawesi Selatan (27%), Jawa Barat (26%), Jawa Timur (25%), Sumatera Selatan (24 %), Sumatera Utara 24%, Riau (23%) dan (22%) Kalimantan Timur (WHO, 2011). Berdasarkan penelitian Ujung (2013) di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang prevalensi tertinggi penderita hipertensi berdasarkan sosiodemografi adalah kelompok umur >60 tahun yaitu 48,8%, jenis kelamin perempuan yaitu 56,8%, pekerjaan ibu rumah tangga yaitu 30,5% dan tinggal di Kabupaten Dairi yaitu 85,9%. Seiring perkembangan teknologi dan informasi semakin meningkatnya prevalensi hipertensi akibat gaya hidup yang tidak baik seperti obesitas, peningkatan asupan garam, tidak olahraga secara teratur, mengkonsumsi makanan siap saji, kurang berakitivitas, minum minuman beralkohol dan merokok. Tinjauan Cochrane yang didasarkan pada meta-analisis uji-klinik terkontrol secara acak pengurangan asupan natrium untuk