Ekonomis: Journal of Economics and Business, 5(2), September 2021, 374-378 Publisher: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Batanghari Jambi Address: Jl. Slamet Ryadi, Broni-Jambi Kodepos: 36122 Website: http://ekonomis.unbari.ac.id, email: ekonomis.unbari@gmail.com ISSN 2597-8829 (Online), DOI 10.33087/ekonomis.v5i2.391 374 Tata Kelola Perusahaan dan Transaksi Pihak Berelasi Terhadap Manipulasi Laba Arna Suryani*, Sespi Jumaida Universitas Batanghari, Slamet Riyadi, Kota Jambi, Jambi *Correspondence email: arna_halim@yahoo.co.id Abstract. Earnings manipulation is an interesting phenomenon to study where corporate governance (GCG) can reduce management behavior that is opertunistic in manipulating earnings and through related transactions can motivate companies to make profits. LQ45 companies for the 2016-2019 period listed on the Indonesia Stock Exchange become this object. Samples were selected based on certain criteria so as many 20 sample companies. This study is a descriptive study with multiple linear regression analysis tools performed classical assumption test and hypothesis testing. The results of the study confirm that companies that implement good corporate governance have good governance and can suppress opportunistic behavior. Related party transactions show that it is not directly proportional to the practice of profit. Companies can reduce opportunistic management by implementing good governance and obtaining more information about relationships in making investment decisions. Keywords: Corporate Governance, Earnings manipulation, Related Parties Pendahuluan Manipulasi laba menjadi sebuah topik yang sering diperbincangkan dalam dunia bisnis maupun akademik. Penelitian (Eny, 2019) mengemukakan bahwa manajemen laba bukan menjadi masalah baru, reputasinya masih mencuri perhatian para analis keuangan dan peneliti akademis, karena seiring perkembangan dunia praktik manajemen laba semakin meningkat beberapa dekade terakhir. Manajemen laba menjadi suatu permasalahan yang penting, Manajemen laba pada suatu perusahaan bisa mengakibatkan adanya dugaan informasi yang menyebabkan laporan keuangan tidak sesuai serta tidak menunjukkan kondisi yang sebenarnya perusahaan tersebut untuk pengguna laporan keuangan. Manajemen laba muncul akibat adanya konflik kepentingan, informasi asimetri dan fleksibilitas dalam memilih kebijakan akuntansi pada pelaporan keuangan untuk dapat diminimumkan yaitu dengan mempraktikan metode tata kelola perusahaan (GCG) melalui komisaris independen, kepemilikan institusional, dan kepemilikan manejerial (Ambarita & Nuswantara, 2009). (Effendi, 2009) mengemukakan bahwa GCG merupakan aturan pengendalian perusahaan yang memberikan hasil yang baik untuk pihak berkepentingan dengan terbentuknya sistem kerja yang transparan, profesional dan bersih pada manajemen. (Ambarita & Nuswantara, 2009) juga mengemukakan bahwa komisaris independen pada perusahaan merupakan hal yang mutlak dalam GCG untuk menciptakan kebijakan yang independen, berkeadilan dan rasional sebagai pilar utama dalam mendukung para pihak yang berkepentingan atau minoritas. GCG memiliki tujuan meminimalkan praktek manajemen laba, dengan melakukan pengendalian dan pengawasan yang memberikan kemungkinan untuk mewujudkan menurunnya praktek manajemen laba dalam tata kelola pada perusahaan. Kredibilitas suatu laporan keuangan dapat ditingkatkan dengan penerapan GCG yang berkesinambungan, sehingga lebih mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang sebenarnya, GCG yang dilakukan dengan baik pada perusahaan akan semakin baik juga kinerja perusahaannya. Agar perusahaan beroperasi sesuai dengan peraturan yang berlaku diperlukan seorang komisaris independen yang dapat mengawasi dan mengarahkan. (Suyanto & Supramono, 2012) mengemukakan apabila suatu perusahaan memiliki jumlah komisaris independen yang dominan menyebabkan perusahaan terawasi lebih cermat, Sehingga meningkatkan kredibilitas pajak, perusahaan beroperasi pada koridor hukum dan peraturan yang seharusnya karena komisaris independen merupakan salah satu pihak yang penting dalam pembuatan sistem yang berfungsi mengawasi dan pengendalian yang efektif pada perusahaan. Komisaris independen merupakan salah satu pihak yang penting dan juga bertanggungjawab atas prinsip GCG yaitu menjamin transparansi serta keterbukaan laporan keuangan untuk para pihak yang berkepentingan. Tata kelola perusahaan yang baik dapat mengurangi tindakan transaksi pihak berelasi dan oportunistik manajemen yang dapat merugikan para pemegang saham. Dilihat dari pihak istimewa terhadap manajemen laba, banyak penelitian yang berasumsi bahwa transaksi hubungan istimewa mempunyai hubungan yang sangat dekat terhadap manajemen laba, adanya asumsi investor terhadap perusahaan yang ada hubungan istimewa dengan yang tidak ada transaksi hubungan istimewa karena diperkirakan adanya kemungkinan manipulasi laba pada perusahaan tersebut. Namun dalam (Gordon & Henry, 2011) mengemukakan jika keberadaan transaksi hubungan istimewa tidak menunjukkan kecurangan pada pelaporan keuangan dan transaksi hubungan istimewa dalam suatu komponen yang sangat berkaitan terhadap manajemen laba