60 PROSIDING Seminar Matematika dan Sains Departemen Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi FKIP Universitas Wiralodra 19 September 2019 KEMAMPUAN OPERASI PERKALIAN SISWA TUNANETRA MENGGUNAKAN METODE JARIMATIKA Meila Refianti * , Sri Hartini, &Farid Gunandi Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Wiralodra, Jl. Ir. H. Juanda KM.03, Indramayu 45213, Indonesia * mellarefianti.1082014@gmail.com Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan operasi perkalian siswa tunanetra menggunakan metode jarimatika, dan kendala yang dilalui serta sejauh mana siswa dapat menggunakan metode jarimatika pada operasi perkalian. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa tunanetra SLBN 2 Indramayu kelas VI Tahun Pelajaran 2018/2019 yang berjumlah dua siswa bernama Wahib dan Eka. Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan operasi perkalian menggunakan metode Jarimatik. Subjek penelitian siswa tunanetra dipilih menggunakan strategi sampling pusposeful tipe sampling menurut Saifuddin Zuhri Qudsy (2015: 217). Untuk menguji keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, triangulasi peneliti, triangulasi teoritis. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data sebagai berikut: 1. Wahib dapat mengikuti proses pembelajaran yang dijelaskan oleh peneliti mengenai operasi perkalian menggunakan metode jarimatika, kendala yang dilalui Wahib adalah kurang menguasai operasi penjumlahan puluhan dan ratusan, kemampuan operasi perkalian Wahib menggunakan metode Jarimatika dari enam sampai sepuluh dan sebelas sampai lima belas. 2. Kemampuan operasi perkalian Eka menggunakan metode Jarimatika kurang, kendala yang dilalui Eka adalah kurang menguasai perkalian satu sampai lima, Eka kurang dapat menggunakan metode jarimatika pada operasi perkalian. Hasil dari penelitian diatas dapat diketahui bahwa siswa tunanetra dapat menggunakan metode jarimatika jika menguasai operasi perkalian satu sampai lima dan menguasai operasi penjumlahan satuan, puluhan, dan ratusan. 1. Pendahuluan Kemampuan setiap siswa berbeda beda membuat para pendidik SLB lebih memfokuskan pada setiap siswa secara individu, karena setiap siswa memiliki model belajar yang berbeda sesuai kemampuan. Salah satu kesulitan proses pembelajaran matematika diterapkan pada siswa disabilitas tunanetra ialah karena masalah penglihatan. Menurut Sari Rudiyati (2010 : 57) membaca dan menulis Braille merupakan salah satu sarana bagi penyandang tunanetra untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan orang lain yang menggunakan dria taktual (indera peraba). Sebab penglihatan adalah poin utama dalam proses pembelajaran, tetapi siswa tunanetra memiliki hak untuk belajar seperti siswa normal lain. Sehingga siswa tunanetra menggunakan metode hafalan untuk menjawab soal matematika. Menurut Marsudi Raharjo dkk (2009) perkalian adalah salah satu topik matematika yang sangat penting dalam pembelajaran karena banyak penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagian awal dari perkalian yaitu perkalian 110 yang merupakan perkalian dasar yang harus dikuasai oleh siswa karena menjadi pijakan untuk perkalian-perkalian berikutnya. Fakta bahwa saat ini siswa masih kesulitan dalam menerima pelajaran perkalian