A. 22 PERANCANGAN PENGERING LARUTAN MALTODEKSTRIN MENGGUNAKAN SPRAY DRYER DENGAN DEBIT ALIRAN 2 LITER PER JAM Pratomo Setyadi*, Nugroho Gama Yoga, Alfian Luthfi Jurusan Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, Jl. Rawamangun Muka No.5 Jakarta, 13220 *E-mail : Psetyadi@unj.ac.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat pengering larutan maltodekstrin konsentrasi 20% dengan metode spray drying. Larutan rencanananya akan dikeringkan hingga 10% kadar air (w.b) dengan temperatur udara panas 80 o C. Debit aliran bahan yang digunakan untuk merancang spray dryer adalah 2 liter/jam. Menggunakan metode spray drying berarti larutan di kabutkan menjadi butiran halus sebesar 50 mikrometer menggunakan atomiser. Butiran halus tersebut kemudian dikontak langsung dengan udara panas dan waktu pengeringan yang digunakan akan dihitung. Hasil hitungan waktu pengeringan dengan kecepatan jatuh butiran larutan keluar atomiser untuk menetapkan jarak pengeringan, dan debit data aliran bahan digunakan untuk menentukan massa aliran udara dan daya pemanas yang dibutuhkan. Hasil perancangan memberikan data waktu pengeringan total 0.365 detik serta jarak pengeringan 2.5 meter untuk co current flow. Jarak pengeringan dijadikan sebagai tinggi rancangan ruang pengering. Dengan jarak pengeringan yang sama, perhitungan debit aliran maksimal pada bahan co current flow memiliki kebutuhan panas 80 o C dengan 0.041 kg/s aliran massa udara. Data tersebut jika dikonversikan menjadi daya pemanas menjadi 5890 Watt yang kemudian dijadikan acuan sebagai spesifikasi rancangan pemanas. Spray dryer dirancang menjadi 3 sistem utama yaitu sistem atomiser, sistem suplai udara, dan sistem ruang pengering. Kata kunci: Pengeringan; Pengeringan Sempro; Spray drying; Spray Dryer; Maltodekstrin. PENDAHULUAN Sejak dulu di Indonesia produk bubuk sudah di produksi pada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) industri pangan. Proses pengeringan hingga menjadi bubuk yang dilakukan UMKM masih menggunakan cara tradisional yang dilakukan dengan menggiling bahan pangan hingga menjadi larutan, lalu memasaknya dalam tungku sambil diaduk hingga menjadi kerak lalu ditumbuk menjadi bubuk. Proses ini memiliki banyak kekurangan yaitu, waktu proses yang relatif lama, membutuhkan banyak tenaga pekerja untuk mengaduk tungku, bahan bakar yang boros dan hasil produksi yang terbatas. Selain itu produk yang terbentuk juga memiliki tingkat kering berbeda serta rawan dari kegosongan yang mempengaruhi hasil nutrisi, rasa, dan warna pada produk. Karena itu Prosiding Seminar Nasional NCIET Vol.1 (2020) A22-A28 1 st National Conference of Industry, Engineering and Technology 2020, Semarang, Indonesia.