ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI KELAPA SAWIT RAKYAT POLA SWADAYA DI KABUPATEN KAMPAR-RIAU Anto Ariyanto, Rini Nizar dan Enny Mutryarny *) Universitas Lancang Kuning Pekanbaru ABSTRAK Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang potensial yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Kampar Riau. Untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik, kelapa sawit membutuhkan pemanfaatan faktor-faktor produksi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit rakyat pada Pola Swadaya di Kabupaten Kampar Riau. Pengkajian dilaksanakan di Kecamatan Tapung dan Tapung Hilir Kabupaten Kampar Riau pada bulan April 2017. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja dengan responden berjumlah 32 orang petani. Responden yang dipilih merupakan petani kelapa sawit yang telah menghasilkan (umur tanaman diatas 3 tahun). Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui informasi yang dihimpun dari responden menggunakan daftar pertanyaan yang disusun secara terstruktur (kuesioner) meliputi identitas responden, kepemilikan lahan, faktor produksi kelapa sawit dan kelembagaan. Sedangkan data skunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan dinas instansi terkait. Data yang diperoleh di analisis dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb- Douglas yang diolah dengan teknik analisis OLS (Ordinary Least Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit rakyat dengan pola swadaya di Kabupaten Kampar Riau adalah umur tanaman berpengaruh nyata positif sebesar 31.85 %, dan penggunaan pupuk urea berpengaruh nyata positif sebesar 33.24 %. Kata Kunci : faktor produksi, kelapa sawit, pola swadaya PENDAHULUAN Di Indonesia, keterlibatan aktif dari petani rakyat dalam budidaya kelapa sawit ini pada awalnya merupakan bagian dari kebijakan pemerintah melalui program transmigrasi. Program transmigrasi merupakan program perpindahan penduduk dari Jawa ke Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau kurang padat lainnya yang didukung melalui budidaya kelapa sawit dan kegiatan ekonomi lainnya dalam upaya mewujudkan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan ekonomi di daerah pedesaan (Gatto et al. 2014). Selanjutnya petani yang dilibatkan dalam budidaya kelapa sawit tersebut terikat melalui hubungan kontrak dengan perusahaan-perusahaan negara dan swasta (Hasnah et al. 2004). Selanjutnya dalam budidaya kelapa sawit di Indonesia terdiri dari beberapa tipe petani rakyat. Mereka dibedakan dalam hal bagaimana petani berhubungan dengan produksi dan pemasaran TBS. Secara garis besar kita dapat membedakan menjadi dua tipe petani, yaitu petani pola kemitraan PIR dan petani pola swadaya (Gambar 1). Petani pola kemitraan PIR adalah petani yang memulai budidaya kelapa sawit dengan skema pengelolaan dibawah binaan pemerintah atau swasta dan kedua, mereka yang memutuskan untuk mengadopsi pengelolaan kelapa sawit tersebut secara mandiri (Euler et al. 2015). Pada petani dalam