1286 Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Muatan IPA di Kelas IV Sarah Nurhabibah 1 , Arif Hidayat 2 , Alif Mudiono 3 1 Pendidikan Dasar-Pascasarjana Universitas Negeri Malang 2 Pendidikan Fisika-Universitas Negeri Malang 3 Pendidikan Anak Usia Dini-Universitas Negeri Malang INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 30-04-2018 Disetujui: 10-10-2018 Abstract: This study aims to determine the effect of guided inquiry learning model on the science process skills and cognitive learning outcomes of natural science in 4 th grade of elementary school. Quasi experiments were used in the study with a pretest-posttest design control group. Science process skills hypothesis test and cognitive learning outcomes of natural science using ANACOVA. The results showed that (1) there is the effect of application of guided inquiry learning model on Keterampilan Proses Sains with sig <0.05 and (2) there is the effect of application of guided inquiry learning model on cognitive learning outcomes of natural science with sig <0.05. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif muatan IPA di kelas IV SD. Kuasi eksperimen digunakan dalam penelitian dengan rancangan control group pretest-posttest design. Uji hipotesis Keterampilan Proses Sains dan hasil belajar kognitif muatan IPA menggunakan ANACOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap Keterampilan Proses Sains siswa kelas IV SD dengan nilai sig <0,05 dan (2) terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar kognitif muatan IPA kelas IV SD dengan nilai sig <0,05. Kata kunci: guided inquiry; science process skills; learning outcomes; inkuiri terbimbing; keterampilan proses sains; hasil belajar Alamat Korespondensi: Sarah Nurhabibah Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: sarahnurhabibah1994@gmail.com Pembelajaran IPA di SD diberikan kepada siswa untuk melatih keterampilan proses sains dan perlu dimodifikasikan sesuai dengan tahap perkembangannya. IPA ada pada kurikulum SD karena (1) memiliki faedah bagi bangsa dan sebagai tonggak pembangunan, (2) melatih atau mengembangkan kemampuan berpikir, (3) pembelajaran IPA dilakukan melalui percobaan-percobaan dan bukan hafalan sehingga siswa dapat mencari dan menyelidiki sendiri, dan (4) mempunyai nilai-nilai pendidikan atau potensi yang bisa membentuk karakter siswa (Samatowa, 2011). Menurut Wisudawati dan Sulistyowati (2015) tantangan pembelajaran IPA di SD ialah memfasilitasi siswa pada pengalaman fisik dan mengembangkan keterampilan sains. Tentu saja hal ini sangat berbeda dengan pembelajaran sains konvensional yang mengutamakan intervensi guru baik dalam penyampaian materi maupun praktikum IPA yang terlalu banyak mengandung instruksi. Hal inilah yang perlu dikritisi dalam pembelajaran sains di sekolah dasar. Hasil observasi sebagai studi pendahuluan yang dilakukan pada hari Selasa tanggal 16 Januari 2018 dan hari Kamis tanggal 18 Januari 2018 di kelas IV B dan IV A SDN Dampit 6 Kabupaten Malang terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan ditemukan fakta, meliputi (1) pembelajaran masih cenderung konvensional yang dominan menggunakan metode tanya jawab dan ceramah, (2) saat siswa ditugasi untuk mengerjakan soal di buku siswa materi daur hidup hewan, terlihat siswa di deretan bangku belakang malah bermain kertas dan membuat origami, (3) terdapat beberapa siswa menyandarkan kepala di atas meja tanpa mempedulikan temannya saat mengerjakan tugas dari guru, terlihat siswa tidak tertarik untuk mengerjakan tugas dari guru, (4) kegiatan siswa secara keseluruhan dalam pembelajaran hanya mendengarkan guru menjelaskan materi, menjawab pertanyaan dari guru dan mengerjakan soal, dan (5) tidak ada kegiatan terkait keterampilan proses sains yang terdiri atas, observasi, klasifikasi, memprediksi, mengukur, percobaan, dan menyimpulkan. Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa keterampilan proses sains masih sangat kurang diperhatikan oleh guru dan berdampak terhadap hasil belajar yang tidak optimal. Menggunakan keterampilan proses sains merupakan indikator penting untuk transfer pengetahuan yang diperlukan dalam pemecahan masalah dan fungsionalitas hidup (Jack, 2013). Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 3 Nomor: 10 Bulan Oktober Tahun 2018 Halaman: 12861293