Vol. 2, No. 2, Tahun 2020 Jurnal ALTASIA 82 ISSN: 2655-965X Menentukan Identitas Kota Tasikmalaya dengan Pendekatan The City Branding Hexagon Yusuf Abdullah 1 , Aa Willy Nugraha 2 1 Universitas Siliwangi, yusufmmunsil@gmail.com 2 Universitas Siliwangi, aawillynugraha@gmail.com ABSTRAK Persaingan bisnis tidak hanya terjadi pada perusahaan melainkan terjadi pada kota. Setiap kota melakukan branding sebagai cara untuk membentuk citra dan membentuk identitas kota tersebut. City branding dibentuk berdasarkan pada potensi kota untuk menciptakan nilai jual kota tersebut dalam menarik perhatian dan menciptakan keputusan masyarakat untuk berkunjung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui identitas Kota Tasikmalaya melalui pendekatan The City Branding Hexagon dari Simon Anholt (2007), yaitu konsep city branding yang bertujuan untuk menentukan identitas suatu kota. The city branding hexagon terdiri dari indikator kehadiran, potensi, tempat, orang, semangat, dan prasyarat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Tasikmalaya membentuk city branding “Tasik Kota Resik, Tasik Kota Kreatif” melalui the city branding hexagon untuk membentuk identitas Kota Tasikmalaya sebagai kota yang resik/ indah dan memiliki atraksi wisata yang layak untuk dikunjungi. Kata Kunci: City Branding, City Branding Hexagon, Identitas Kota. ABSTRACT Business competition do not only occur in the company but also in the city. Every city carry out city branding as a way to form the image and identity. The city branding was based on city’s potencies to create the city value and attract people’s attention and decision to visit the city. The purpose of this study was to identify city branding of Tasikmalaya through The city branding hexagon by Simon Anholt (2007), a city branding concept in forming city’s identity that consisted of presence, potential, place, people, pulse, and prerequisite. This study used qualitative method with case study approach. The data was collected by observation and literature study. The result was expected that Tasikmalaya formed city branding “Tasik Kota Resik, Tasik Kota Kreatif” through the city branding hexagon to form identity and to expose that Tasikmalaya was beautiful city and had suitable tourism attraction to visit. Keywords: City branding, City Branding Hexagon, City Identity. Diterima: 9 September 2019, Direvisi: 26 November 2019, Diterbitkan: 15 Februari 2020 PENDAHULUAN Persaingan kota-kota di Indonesia saat ini adalah tergantung pada potensi yang ditonjolkan dan sejauhmana kota tersebut terintegrasi ke dalam sistem teknologi informasi dan komunikasi. Persaingan antara kota-kota inilah yang mendasari perlunya mempromosikan perubahan dalam organisasi publik dan manajemen kota metropolitan, terutama dalam hal mencapai tujuan posisional tertentu (Jordi, 2013). Terlebih lagi kota yang menitikberatkan pada atraksi wisata dan budaya yang dijadikan sebagai sumber pendapatan. Peran teknologi informasi memudahkan proses promosi kota tersebut dan dapat dengan mudah terakses oleh masyarakat, terutama calon pengunjung. Transformasi kota sebagian besar disebabkan oleh rekonseptualisasi panggilan berbasis budaya dan pengetahuan untuk ruang kota, dengan kota berfungsi sebagai garda depan teritorial untuk segala sesuatu yang terkait dengan inovasi dan kreativitas (Jordi, 2013). Kegiatan marketing, seperti branding, pada dasarnya adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh sebuah instansi dengan tujuan untuk membangun dan membesarkan sebuah brand atau merek yang melekat pada produk/ jasa yang dimiliki. Begitu pun dengan kota administratif seperti Kota Tasikmalaya melakukan kegiatan branding untuk mencerminkan identitas dan menonjolkan keunggulannya guna menarik konsumen potensial, wisatawan, investor, ataupun penduduk (Lestari, 2016). Branding tidak dipandang