JIP (Jurnal Informatika Polinema) ISSN: 2614-6371 E-ISSN: 2407-070X Halaman | 9 RANCANG BANGUN SISTEM DETEKSI DAN PEMADAM KEBAKARAN PADA SMART HOME MENGGUNAKAN METODE FUZZY Saiful Anam 1 , Indra Dharma Wijaya 2 , Ridwan Rismanto 3 1,2,3 Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Teknologi Informasi , Politeknik Negeri Malang 1 saifulanam.id@gmail.com, 2 indra.dharma@polinema.ac.id, 3 rismanto@polinema.ac.id Abstrak Kebakaran merupakan bencana nonalam yang terjadi diakibatkan adanya proses atau peristiwa nonalam seperti arus pendek listrik, kegagalan sistem, human error dan sebab lainnya. Salah satu tindakan untuk mencegah kebakaran adalah memasang sistem deteksi dan pemadam kebakaran. Namun pada beberapa kasus, sistem deteksi kebakaran konvensional memiliki masalah yang cukup signifikan yaitu sering terjadinya false alarm. Maka dari itu dibutuhkan sistem yang mampu melakukan deteksi kebakaran secara akurat dan cepat serta dapat mengatasi dari terjadinya kegagalan deteksi atau false alarm. Penelitian ini menggunakan tiga sensor yaitu sensor api, sensor suhu, dan sensor asap sebagai sumber input-an data. Perangkat Arduino sebagai pembaca data dan Raspberry Pi bertugas mengelola data lebih lanjut. Sedangkan metode yang digunakan untuk melakukan pendeteksian kebakaran adalah metode Fuzzy Sugeno dengan tiga parameter utama yaitu suhu, kepekatan asap, dan intensitas api. Dari pengujian yang telah dilakukan menghasilkan nilai respon yang sesuai dengan metode Fuzzy Sugeno berdasarkan perhitungan manual maupun sistem. Pada 15 kali pengujian menunjukkan nilai Defuzzifikasi yang sesuai berjumlah 15, nilai Defuzzifikasi tidak sesuai berjumlah 0, dan terjadi false alarm berjumlah 0. Sehingga didapatkan tingkat keberhasilan perhitungan metode Fuzzy Sugeno adalah 100%. Sistem ini berhasil melakukan pendeteksian kebakaran dan cocok untuk diterapkan pada konsep smart home. Kata kunci : False Alarm, Fuzzy Sugeno, Raspberry Pi, Smart Home, Sensor. 1. Pendahuluan Kebakaran adalah salah satu bencana yang memiliki dampak yang cukup besar. Kebakaran bisa terjadi setiap saat tanpa ada yang bisa memprediksi, apabila tidak diatasi dengan cepat maka akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Beberapa dampak yang ditimbulkan akibat bencana kebakaran yaitu luka akibat terbakar, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, dan bahkan bisa kehilangan nyawa. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kebakaran antara lain akibat korsleting dan arus pendek listrik, kenaikan suhu dari proses mekanis sehingga menimbulkan api, dan faktor manusia atau human error yang kurang paham tentang prinsip penyebab kebakaran. Berdasarkan data statistik dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provisi DKI Jakarta, peristiwa kebakaran yang terjadi di provinsi DKI Jakarta pada tahun 2016 sudah terjadi sebanyak 1.047 kasus. Beberapa penyebabnya adalah karena listrik sebanyak 754 kasus, rokok 35 kasus, kompor 75 kasus, 183 lain lain, dan 0 untuk kasus belum diketahui, namun pada tahun 2017 kasus kebakaran meningkat sebanyak 2.055 kasus. Penyebab karena listrik sebanyak 851 kasus, rokok 33 kasus, kompor 156 kasus, 1009 lain lain, dan 6 kasus belum diketahui [1]. Sedangkan hasil data statistik kejadian kebakaran di Indonesia pada tahun 2007, kebakaran terbanyak terjadi pada daerah rumah tinggal sebesar 65.8%, pusat perbelanjaan sebesar 9.8%, bangunan industri sebesar 8% perkantoran sebesar 5.6%, pasar sebesar 4.8%, hotel sebesar 4.6%, dan bangunan lainnya sebesar 0.4% [2]. Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2008 tanggal 30 Desember 2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan bahwa semua jenis gedung baik hunian biasa atau gedung perkantoran harus memiliki instalasi sistem deteksi, pencegah, dan pemadam kebakaran [3]. Namun menjadi masalah besar pada jenis gedung hunian biasa (rumah/kost/asrama) yang kebanyakan tidak memiliki instalasi sistem deteksi kebakaran, sehingga apabila terjadi kebakaran akan sangat kecil kemungkinan untuk dapat terdeteksi. Pada beberapa kasus lainnya, sistem pemadam kebakaran konvensional memiliki problem yang cukup signifikan yaitu sering terjadinya false alarm. False alarm merupakan kesalahan sistem yang mendeteksi sinyal terjadinya kondisi kebakaran yang dihasilkan dari sebab selain kebakaran [4]. Selain masalah false alarm, kebanyakan sistem pemadam kebakaran konvensional hanya bisa mendeteksi terjadinya kebakaran apabila suhu ruangan sudah mecapai titik tetap yaitu 58 derajat selsius [5].