Jurnal Malige Arsitektur, Vol. 1, No. 2, Desember 2019, hal. 36-43 ISSN 2656-8160 36 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik – Universitas Halu Oleo PEDOMAN MENGADAPTASI RUMAH TRADISIONAL BUTON PADA BANGUNAN KANTOR PEMERINTAH DI KOTA BAUBAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA 1* Muhammad Zakaria Umar, 2 Arief Saleh Sjamsu 1,2 Program Studi D3 Arsitektur, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Halu Oleo 1* zakariaumar@uho.ac.id, 2 ariefslhsjamsu@gmail.com, ABSTRAK Selama ini kegiatan adaptasi-mengadaptasi rumah tradisional Buton ke bangunan pemerintah masih bersifat asal caplok dan cenderung kurang mempertimbangkan filosofi serta makna dari rumah tradisional Buton. Hal ini terjadi karena belum adanya pedoman atau acuan yang pasti tentang cara mengadaptasi rumah tradisional Buton. Pedoman mengadaptasi rumah tradisional Buton ke bangunan pemerintah penting dibuat agar filosofi, simbol, dan makna rumah tradisional Buton tetap terjaga. Penelitian ini ditujukan untuk membuat pedoman adaptasi rumah tradisional Buton pada bangunan kantor pemerintah di Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode etnografis dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi seperti pengambilan gambar obyek, buku, dan data-data hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pedoman mengadaptasi rumah tradisional Buton pada bangunan kantor pemerintah di Kota Baubau dilakukan dengan cara menyetarakan tugas para pejabat, menyetarakan fungsi para pejabat, menyetarakan bangunan tradisional dan kantor pemerintahan, dan mengidentifikasi elemen-elemen arsitektural yang bermakna politis. Kata kunci: Adaptasi, rumah Buton, bangunan pemerintah ABSTRACT All this time the adaptation activities - adapting traditional Buton houses to government buildings are still of an origin and tend to lack consideration of the philosophy and meaning of traditional Buton houses. This happens because there are no definitive guidelines on how to adapt the traditional Buton house. Guidelines for adapting traditional Buton houses to government buildings are important so that the philosophy, symbols, and meanings of traditional Buton homes are maintained. This study aimed to make guidelines for adaptation of traditional Buton houses in government office buildings in the City of Baubau, Southeast Sulawesi Province. This research uses ethnographic methods with a qualitative approach. Data collection is done by means of documentation such as taking pictures of objects, books, and data from previous research. Based on the above it can be concluded that the guidelines for adapting traditional Buton houses to government office buildings in the City of Baubau are carried out by balancing the duties of officials, balancing the functions of officials, balancing traditional buildings and government offices, and identifying architectural elements that are politically meaningful. Keywords: Adaptation, Buton house, government building PENDAHULUAN Dewasa ini terdapat isu terbesar di kalangan arsitek Indonesia. Isu tersebut adalah bagaimana cara mendesain bangunan yang mencitrakan Indonesia. Caranya adalah harus dicari dalam arsitektur tradisional Indonesia. Penelitian-penelitian rumah tradisional di Indonesia diibaratkan berlari di tempat sedangkan di sisi lain pembangunan sangat cepat. Di bidang arsitektur, cara mengadaptasi rumah tradisional ke dalam setiap karya bangunan cukup marak. Cara mengadaptasi rumah tradisional ke bangunan kekinian perlu kehati-hatian. Hal ini agar filosofi, makna, dan simbol-simbol bangunan tradisional tetap terjaga. Cara mengadaptasi rumah tradisional hendaknya tidak mengutamakan penampilan fisik belaka (Budihardjo, ed., 2009). Esensi rumah tradisional hendaknya bisa berjalan beriringan dengan penampilan fisik. Tetapi pada kenyataan di lapangan bahwa elemen- elemen fisik arsitekturnya digunakan, tetapi esensi dan simbol-simbolnya diabaikan (Budihardjo, ed., 1996). Kegiatan adaptasi-mengadaptasi terjadi juga di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Suasana mengadaptasi rumah tradisional Buton ke bangunan kekinian sangat terasa di Kota Baubau. Bentuk atap Malige (rumah atap bersusun) pada rumah tradisional Buton diadaptasi pada bangunan sekolah, pertokoan, bangunan komersial, dan bangunan perkantoran. Hal ini sangat membanggakan, tetapi di sisi lain etika mengadaptasi rumah tradisional harus tetap dijaga. Di Kota Baubau peraturan tentang arsitektur bangunan gedung terutama bangunan pemerintah terdapat pada Peraturan Daerah Kota Baubau Nomor 4 Tahun 2015 Pasal 31 ayat 1 sampai dengan ayat 6. Ayat 5 tertulis bahwa persyaratan arsitektur dengan gaya/langgam tradisional disebut juga dengan kearifan lokal, dapat berupa bangunan gedung dengan fungsi hunian, fungsi keagamaan, dan fungsi usaha. Ayat 6 tertulis bahwa persyaratan arsitektur dengan kearifan lokal sesuai ayat (5) di atas, dipertegas pada khusus