Pengaruh El-nino terhadap perubahan iklim mikro dan....(E. Rezamela dan S. Lubnan Dalimoenthe) 15 Pengaruh El-Nino tehadap perubahan iklim mikro dan kadar air tanah di kebun teh Gambung The influence of El-Nino on microclimate change and soil water content in Gambung tea plantation Erdiansyah Rezamela dan Salwa Lubnan Dalimoenthe Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung 40972 E-mail: rezamela.erdiansyah@gmail.com Dajukan: 26 Februari 2016; direvisi: 24 Maret 2016; diterima: 23 Mei 2016 Abstrak Gejala alam El-Nino dengan intesitas sangat kuat pada tahun 2015 berdampak terhadap perubahan iklim mikro dan kadar air tanah di kebun teh Gambung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2015 Ke- bun Gambung mengalami 4 bulan kering (curah hujan < 60 mm), suhu udara maksimum 30,8ºC, kelembaban udara turun hingga mencapai titik terendah 65%. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat tumbuh tanaman teh yang mengharuskan jumlah bulan kering minimal 2 bulan dengan intensitas curah hujan di bawah 60 mm, suhu udara optimal 1825ºC, dan kelembaban udara minimal 70%. Areal yang mengalami dampak kekeringan disajikan dalam bentuk peta (lihat Gambar 3 pada naskah). Hasil pengamatan me- nunjukkan bahwa 65% dari total blok (afdeling utara ± 80% dan afdeling selatan ± 50%) di kebun teh Gambung terindikasi mengelami dampak kekeringan. Pada blok-blok dengan dampak kekeringan terparah A6 (utara) dan B8 (selatan) sekitar 54,70% tanaman masih normal; 14,65% layu sementara dan permanen; 26,34% gugur daun; 5,19% kering pucuk dan ranting muda; serta 0,12% tanaman mengalami kema- tian pada ranting dan cabang tua. Kadar air tanah (pada kedalaman 10 cm) pada kedua blok tersebut turun menjadi 7,02% dan 4,99% dari batas minimal 30%. Kata kunci: El-Nino, iklim mikro, gejala kekeringan, kadar air tanah, kebun teh Gambung Abstract The very strong intensity of 2015 El-Nino affected on microclimate change and soil water content of Gambung Tea Plantation. The observation results indicated that in the year of 2015 Gambung was experienced four dry months (with rainfall <60 mm), with maximum air temperature 30,8ºC and air humidity dropped to 65%. These condition were not suitable for tea plant to grow well, which normally required two dry months at minimum (rainfall < 60 mm), air temperature of 18 25ºC, and with relative humidity of above 70%. The affected areas by drought were present in a map (see Figure 3 of the text). About 65% of the total blocks (north section about 80% and south section about 50%) of Gambung tea plantation were affected by drought. The worst affected were blocks A6 (north section) and B8 (south