SINERGI 2021, Volume 19 (1): 32-41 DOI : http://dx.doi.org/10.31963/sinergi.v19i1.2744 Perbandingan sensor untuk Fault Detection dan Replacement Sensor Temperatur Pada Penyimpanan Sementara Tepung Gandum Imran Habriansyah Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Ujung Pandang, Makassar 90245, Indonesia * imranhabriansyah@poliupg.ac.id Abstract: This study aims to discuss the diagnosis of error reading temperature sensor readings for wheat storage, using structural analysis methods. Structural data-based analysis is used to analyze the condition of the system. A comparison of the performance and reading speed of the sensor is also discussed. The method used in this research is redundancy analysis and comparison of data from sensor systems. reading the main sensor compared to the data that has been stored on the system. When the data from the sensor has an assessment with the data that is in the system, then the sensor is considered normal. However, if the data does not match, the sensor data backup will be the next comparison. If the data is declared to have no rating, then the sensor is considered to have failed. From several experiments produced a comparison of the response speed of changes in the temperature sensor. The speed of reading temperature changes from the texas instrument sensor (LM35) is better than the sensor from the integrated maxim (DS18B20). However, the accuracy is the opposite. For detecting speed error and changing sensors, the device from Texas Instruments is better than Maxim Integrated. For the reading speed, the DS18B20 sensor is more sensitive to dust / parasites with a speed of 87.8 ms, while the LM35 sensor is better at 77.5 ms. For the condition of changing the sensor to a backup sensor, the use of the LM35 and DS18B20 sensors has the same speed, the fastest time for these two sensors is 14.1 ms. Keywords: analysis redundancy, error sensor reading, speed reading, temperature response speed change Abstrak: Penelitian ini bertujuan membahas tentang diagnosis kesalahan pembacaan sensor temperatur tempat penyimpanan gandum, menggunakan metode teknik analisis struktural. Analisis struktural berbasis data digunakan untuk menganalisis kondisi dari sistem. Perbandingan kinerja dan kecepatan pembacaan dari sensor juga dibahas. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis redudansi dan perbandingan data dari sistem sensor. Data pembacaan sensor utama dibandingkan dengan data yang telah disimpan pada sistem. Ketika data dari sensor memiliki kemiripan dengan data yang berada pada sistem, maka sensor dianggap normal. Akan tetapi jika data tersebut tidak sesuai, data sensor backup akan menjadi pembanding selanjutnya. Apabila data dinyatakan tidak memiliki kemiripan, maka sensor dianggap gagal. Dari beberapa percobaan dihasilkan perbandingan kecepatan respon perubahan temperatur dari sensor. Kecepatan pembacaan perubahan temperatur dari sensor texas instruments (LM35) lebih baik dibandingkan sensor dari maxim integrated (DS18B20). Akan tetapi akurasinya berbanding terbalik. Untuk kecepatan pendeteksian kesalahan dan penggantian sensor, piranti dari texas instruments lebih baik dari maxim integrated. Untuk kecepatan pembacaan kegagalan sensor DS18B20 lebih sensitif terhadap debu / parasit dengan kecepatan 87,8 ms, sedangkan untuk sensor LM35 lebih baik yaitu 77,5 ms. Untuk kondisi penggantian sensor ke sensor backup pada penggunaan sensor LM35 dan DS18B20 memiliki kecepatan yang sama, waktu yang tercepat untuk kedua sensor ini sebesar 14,1 ms. Kata kunci : analisis redudansi, kesalahan pembacaan sensor, kecepatan pembacaan, kecepatan respon perubahan temperature. I. PENDAHULUAN Pada penelitian sebelumnya, telah dilakukan pengujian fault detection dan replacement sensor temperatur pada penyimpanan tepung gandum, akan tetapi, penelitian tersebut hanya berfokus pada satu jenis sensor saja, serta tidak menguji beberapa kondisi dari sensor[1]. Kenaikan temperatur penyimpanan dari 27.5˚C menjadi 37.5˚C dapat mengakibatkan perubahan sifat fisik (warna) dari tepung gandum[2], hingga ledakan dari tempat penyimpanan, sedangkan suhu yang lebih rendah dapat mengakibatkan penurunan tingkat kelembaban pada tepung.