Di tengah keprihatinan kita terkait dengan banyaknya pejabat publik yang masuk penjara akibat tersangkut kasus korupsi, ada harapan baru berupa munculnya pejabat publik yang menyuarakan semangat perubahan. Sebut saja Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Suyoto (Bupati Bojonegoro), Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng), dan Mochammad Ridwan Kamil dan tentu masih ada lagi bupati/walikota lain yang sukses memimpin perubahan di daerahnya. Mengetahui kiprah para pejabat publik yang sukses dalam melakukan perubahan didaerahnya sangat penting. Pertama, kita menjadi tahu tentang perubahan apa yang dilakukan, siapa aktor penggagas, mengapa perubahan tersebut dilakukan, bagaimana perubahan dilakukan, dan apa dampak perubahan tersebut. Kedua , kemungkinan diterapkannya keberhasilan tersebut di daerah lain, juga menjadi alasan betapa pentingnya mengetahui dan memahami kiprah para bupati/walikota tersebut dalam memimpin perubahan di daerahnya. Tidak banyak bupati/walikota yang sukses melaksanakan perubahan di daerahnya. Cara ini menjadi penting untuk diadaptasi atau direplikasi di daerah lain. Ketiga , menjadi pembelajaran bagi kita : adakah hubungan antara keberhasilan bupati/walikota tersebut dengan kebijakan reformasi birokrasi. Jangan- jangan reformasi birokrasi tidak memiliki pengaruh dalam membentuk pemimpin perubahan. Jika benar lantas untuk apa ada kebijakan reformasi birokrasi. Disinilah pentingnya catatan ini untuk juga mengevaluasi mengapa reformasi berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap pembentukan pemimpin perubahan birokrasi. Berbagai rumusan pertanyaan tadi sebenarnya mengekspresikan kegelisahan penulis tentang reformasi birokrasi yang telah lama disuarakan dan dilaksanakan dengan kebutuhan anggaran yang sangat besar, namun memberikan efek yang minimal terhadap perubahan nyata di lingkup birokrasi pemerintahan. ***** Untuk itu, secara singkat tulisan ini mengangkat kembali kisah sukses para bupati/walikota yang sukses melakukan berbagai perubahan agar kita bisa belajar me-reform birokrasi secara sederhana namun membawa dampak yang baik bagi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Kisah pertama adalah Tri Rismaharini atau akrab dengan panggilan Risma. Risma adalah walikota wanita pertama kota Surabaya. Risma menjabat walikota Surabaya sejak sejak 28 September 2010. Ia juga walikota wanita Indonesia pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat melalui Pilkada. Sebagai seorang arsitek, tampaknya Risma memahami betul dunia kebersihan dan pertamanan. Sebelum menjabat sebagai walikota, ia pernah menjabat sebagai kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Memimpin Perubahan 1 Jurnal Borneo Administrator / Volume 10 / No. 1 / 2014