Jurnal Pendidikan Multimedia p-ISSN:2685-2489, e-ISSN:2685-2535 Vol. 3, No. 1 (2021), pp. 9–16. DOI: 10.17509/edsence.v3i1.34598 1 Komunikasi Gambar Bercerita Pada Video Animasi Rupa Rungu pada Anak Usia 6-9 Tahun Leni Aprilliani 1 , Dianing Ratri 2 , Riama Maslan Sihombing 3 1,2,3) Program Studi Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Jl. Ganesa 10 Bandung 40132 Email: nileni.aprilliani@gmail.com, atri174@office.itb.ac.id, riama-ms@office.itb.ac.id ABSTRAK Gambar merupakan salah satu alat komunikasi yang digunakan oleh manusia di zaman primitif, pra- sejarah dan juga anak-anak pada masa sebelum mengenal kosakata. Gambar bercerita menjadi salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran bagi anak untuk menstimulus kosa rupa dalam kegiatan menggambar. Penelitian ini menguji cobakan model komunikasi cerita dengan media video rupa rungu yang bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak wimba yang dihasilkan oleh anak ketika mendapatkan stimulus tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran, metode kuantitatif digunakan dengan cara tabulasi bahasa rupa, untuk menegtahui jumlah wimba yang dihasilkan pada setiap gambar anak dan metode kualitatif deskriptif untuk menjabarkan hasil tabulasi variabel wimba. Hasil penelitian menunjukan video animasi rupa rungu diberikan kepada anak usia 6-9 Tahun dengan model komunikasi cerita 3 (Tidak diawali dengan pengenalan tokoh) mengasilkan wimba sebanyak 57,5% dan model komunikasi cerita 2 (diawali dengan pengenalan tokoh dan cerita di balik tokoh) menghasilkan wimba sebanyak 41,1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa video rupa rungu dapat diterapkan kepada anak usia 6 – 9 tahun untuk menstimulus kosa rupa, yang dibuktikan oleh penerapan model komunikasi cerita 3 (tanpa pengenalan tokoh) terdapat lebih banyak wimba. Perbedaan pada model komunikasi cerita 2 dan 3, yaitu model komunikasi cerita 2 (diawali dengan pengenalan tokoh dan cerita di balik tokoh) anak hanya menjelaskan kembali apa yang diceritakan, model komunikasi cerita 3 (tanpa pengenalan tokoh) anak banyak mengimprovisasi cerita, menambahkan cerita baru sehingga wimba yang terjadi lebih banyak. Kata kunci: Gambar Anak, Video Rupa Rungu, Model Komunikasi Cerita ABSTRACT Pictures are one of the communication tools used by humans in primitive times, pre-history and also children in the pre-vocabulary era. Picture storytelling is one of the media that can be used in learning for children to stimulate visual vocabulary in drawing activities. This study tested the story communication model with deaf media, which aims to find out how much wimba the child produces when he gets the stimulus. The method used in this research is mixed methods, quantitative methods are used by means of visual language tabulation, to determine the amount of wimba produced in each child's drawing and descriptive qualitative method to describe the results of tabulation of wimba variables. The results of the study showed that a deaf animation video was given to children aged 6-9 years with story communication model 3 (not starting with character recognition) produced 57.5% wimba and story communication model 2 (starting with the introduction of characters and stories behind the characters) produce wimba as much as 41.1%. The results showed that deaf visuals can be applied to children aged 6 - 9 years to stimulate visual vocabulary, as evidenced by the application of story communication model 3 (without character recognition) there are more wimba. The difference in the story communication model 2 and 3, namely the story communication model 2 (starting with the introduction of the character and the story behind the character) the child only explains what is being told, the story communication model 3 (without character introduction) the child improvises a lot of stories, adding new stories so that more wimba happens. Keywords: Children’s Pictures, Story Communication Models, Visual Deaf Video 1. Pendahuluan Usia kanak-kanak oleh berbagai ahli disebut juga sebagai golden age atau masa keemasan, sehingga pada usia ini pendidikan atau penanaman konsep pada anak harus lebih diperhatikan, karena hal apapun yang anak ingat dalam usia ini akan bertahan lama. Perkembangan anak dalam usia ini mencakup beberapa aspek, yaitu perkembangan motorik, perkembangan kognitf, perkembangan bahasa dan psikososial. Secara keseluruhan, untuk mendukung perkembangan anak tersebut, maka orang tua atau guru harus