1 JURNAL ILMU BUDAYA Volume 4, Nomor 2, Desember 2016, ISSN : 2354-7294 SOSIALISASI PENGGUNAANPROGRAM POWER POINTDAN FONT KARAKTER LONTARAQ DALAM PENGAJARAN BAHASA DAERAHPADA GURU-GURU SEKOLAH DASAR-MENENGAH DI KABUPATEN GOWA Gusnawaty 1 , Ade Yolanda Latjuba 2 , Muhlis Hadrawi 3 , Pammuda 4 , Irianti Bandu 5 1,2,3,4,5 Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin 1 gusnawatyanwar@gmail.com, 2 ade_yolanda15@yahoo.com Abstract To save the local language from destruction, the Elementary and Secondary Education Curriculum should include Local Language as local content that must be learned. Butin reality, the teaching of Region Laguage still seem monotonous and boring to the students of primary and secondary schools in Palangga, Gowa. To overcome this situation, we held training sessions for teachers in order to utilize the computer as a learning medium. The training held on the spot. The teachers are trained to use power point 2007 and installed Lontaraq character fonts into their computer, so they can improve their skill in learning to write, listen, and understand the language of the Bugis- Makassar. The proficiency is expected to be transferred when they teach their students Keywords: elementary and secondary school teachers; the locallanguage; lontaraqfont;power point; capabilities. A. Latar Belakang: Analisis Situasi Bahasa daerah adalah bahasa komunikasi sehari-hari yang dipakai oleh masyarakat lokal. Bahasa ini telah bertahan melewati berbagai macam perubahan zaman.Akibat dari berinteraksinya bahasa ini dengan berbagai macam kondisi dan situasi, maka muncullah berbagai macam jenis dialek dan logat yang berbeda. Akibatnya bahasa daerah yang diucapkan oleh satu masyarakat, meskipun secara akar dan rumpun sama, tetapi dalam prakteknya memiliki perbedaan dengan bahasa daerah yang diucapkan oleh masyarakat daerah lain (Gusnawaty, 2011). Kita ambil contoh yaitu bahasa Bugis Bone. Meskipun secara rumpun sama, namun dalam beberapa aspek jelas berbeda dengan bahasa Bugis Sidrap. Demikian pula yang terjadi di Makassar. Meskipun sama-sama menggunakan bahasa Makassar, orang Jenneponto terlihat jelas apakah dia berasal dari Jenneponto atau Gowa ketika mereka berbicara. Perbedaan ini bisa dilihat dari perbedaan aksen dan intonasi yang diucapkan oleh dua masyarakat yang berbeda tapi sama tersebut. Masyarakat daerah ini memiliki kesamaan yang tidak dapat dibantahkan terutama dalam hal yang berhubungan dengan sastra. Peribahasa adalah contoh nyata dari hal ini. Baik orang Bugis dari Bone maupun orang Bugis dari Sidrap tetap mengenal pepatah lele bulu tellele abiasangyang maknanya sangat sulit mengubah kebiasaan sehingga diumpamakan “gunung dapat berpindah sementara kebiasaan tidak”. Ada puluhan bahkan ratusan bahasa sastra dan peribahasa yang ada di masyarakat daerah yang mungkin akan sayang sekali apabila bahasa ini hilang hanya karena masyarakat daerah tidak menggunakan atau bahkan mungkin tidak mempelajarinya sama sekali. Kekhawatiran ini memang cukup berasalan. Temuan mengejutkan didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi yang menjelaskan bahwa sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedang