* Penulis adalah Lektor dalam Mata Kuliah Pendidikan IPA Fakultas Tarbiyah IAIN Padang 162 INTEGRASI IMTAQ DAN IPTEK DALAM MATA KULIAH ILMU KEALAMAN DASAR (IKD/ IAD) Oleh: Milya Sari* Abstract Studying science and technology should not lead Moslems to atheism. Conversely, the more Moslems study science and technology, they more they realize the existence of “the All Controller” of the universe. In fact, Islam encourages its believers to seek for both science and technology based knowledge (aqliyah) and faith based ones (naqliyah). The improvement on faith (imtaq) can well realized through the mastery on science and technology. These two fields are not standing alone or even against one another. In fact, they should in a good integration. Such integration can be implemented through a subject called Ilmu Alamiah Dasar (Basic Science). Through learning and understanding the perfect creation of Allah, one will improve his/her faith and in turn get closer to Him. Kata Kunci: integrasi, imtaq, iptek, ilmu kealaman dasar PENDAHULUAN engapa dan untuk apa kita mempelajari alam? Marilah kita merujuk kembali kepada salah satu riwayat berikut ini, Pada suatu hari di waktu subuh, sudah lama Bilal melakukan azan di masjid Ma- dinah, namun Nabi belum juga keluar dari dalam gubuknya. Maka pergilah Bilal menjelang beliau, karena cemas kalau-kalau beliau dalam sakit. Maka masuklah Bilal ke dalam. Didapatnya Nabi sedang duduk termenung dan pada matanya terkesan bekas menangis. Lalu Bilal bertanya: Ya Utusan Allah, meng- apa engkau menangis? Padahal kalau pun ada kesalahanmu, baik dahulu mau- pun nanti, akan diampuni oleh Tuhan.” Lalu Nabi menjawab: Hai Bilal, tengah malam telah datang kepadaku Jibril membawa wahyu Tuhan yang berbunyi: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih ber- gantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau men- ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran: 190-191). “sengsaralah hai Bilal” ujar Nabi se- lanjutnya, bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkan maksudnya (Hamka,1987). Siapakah diantara sekian banyak umat Islam yang mampu membaca, memahami, dan manafsirkan “ayat-ayat M