DIATUR DAN MENGATUR Tomy Michael Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Dalam karma masa kini revolusi digital, Covid-19 dan perubahan iklim adalah tiga sahabat yang menjadikan seluruh makhluk berbenah. Ada tulisan karya Ferry Yudha Pratama mengatakan bahwa peranan Biologi dalam kehidupan di masa depan sangat strategis sekali, terutama untuk menyiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan kritis, kreatif, kompetitif, mampu memecahkan masalah yang dihadapi serta berani mengambil keputusan secara cepat dan tepat sehingga peserta didik mampu bertahan dalam kehidupan dan produktif di era globalisasi berbasis digital.[1] Jika Biologi saja bisa berperan padahal terlalu sulit untuk dipelajari kecuali bagian repoduksinya maka kompleksitas tiga sahabat tadi membawa implikasi positif. Seluruh makhluk mulai tumbuhan, manusia hingga mahkluk dengan kecerdasan buatan mengalami perubahan signifikan. Jejak digital bukanlah hal utama ketika seseorang mengunggah kegiatannya tapi mereka lebih senang menjadi aktif dalam virtualnya. Pada akhirnya terjadi alienasi dari dirinya kepada dunia virtual. Jean Jacques Rousseau mengatakan bahwa alienasi sebetulnya untuk mengatasi ketidakmampuan manusia dalam keadaan yang kacau.[2] Para manusia butuh ketenangan dengan mengusik yang bukan miliknya. Dalam revolusi digital, hak atas orang lain dipertontonkan dan pengkerdilan diri menjadi bagian utamanya. Relasi diri manusia dengan keinginan untuk diperhatikan menjadi semakin kuat. Terkhusu dalam tulisan ini yang membahas pada pendidikan maka revolusi digital akan melemahkan orang yang tidak memiliki kemampuan beradaptasi teknologi tetapi orang yang over adaptasi akan menjadi otoriter. Perkembangan berikutnya ketika terjadi Covid-19 dengan segala turunannya maka homo homini lupus menjadi tren yang positif. Keberlakuan positif adalah peningkatan untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari serangan virus. Homo homini lupus yang sebenarnya sifat asli manusia akan semakin terasah. Era modern dan masa transisi yang kita jalani membawa serta cara-cara baru yang tidak manusiawi. Tindakan kekerasan dapat berasal dari otoritas negara melalui undang-undang yang ditujukan terhadap kelompok tertentu, atau dari pelaku tunggal yang menggunakan intimidasi, penyerangan fisik, atau pengeroyokan.[3] Artinya Covid-19 menjadikan manusia terlalu baik dan terlalu jahat. Definisi terlalu baik yaitu banyak mereka yang bekerja dalam membantu korban Covid-19 tanpa imbalan materi. Kebalikannya yaitu manusia terlalu jahat yang selalu mencari kepuasaan dengan menunjukkan kreativitas. Kepuasaan dinilai dengan materi yang mengarahkan dominasi kekuasaan, pada akhirnya Covid- 19 menjadi objeknya. Kekuasaan yang terfokus pada uang akan menjadikan pola berpikir tolong menolong harus dapat imbal balik. Disrupsi demikian bisa diatasi dengan ketegasan pemberlakuan norma hukum. Sudah banyak peraturan perundang-undangan namun ketika pemberian sanksi juga menyertakan pleidoi termasuk pengurangan hukuman dalam hari-hari tertentu.