SEMINAR REKAYASA KIMIA DAN PROSES, 4-5 Agustus 2010 ISSN : 1411-4216 JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG B-16-1 STUDI PROSES BLEACHING SERAT KELAPA SEBAGAI REINFORCED FIBER Achmad Wildan, Abdullah, Slamet Priyanto Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedharto, SH. Kampus Tembalang, Semarang, 50239 Abstrak Serat kelapa dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih berkualitas. Saat ini sedang berkembang penelitian tentang serat alami sebagai bahan pengisi matriks komposit. Serat kelapa sebagai salah satu serat alami mempunyai kelebihan seperti kuat, elastisitas, tahan terhadap peruraian mikroba, tahan terhadap salinitas, biodegradable dan banyak tersedia di alam. Proses bleaching adalah salah satu proses yang sangat penting pada proses pembuatan serat kelapa. Perbedaan kondisi pada proses bleaching mempengaruhi kualitas produk serat kelapa yang dihasilkan seperti kuat tarik dan derajat kecerahan. Hidrogen peroksida mempunyai kelebihan yaitu sifatnya yang lebih ramah lingkungan dibandingkan oksidator lain karena peruraiannya hanya menghasilkan air dan oksigen. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh konsentrasi H 2 O 2 , pH dan suhu terhadap kuat tarik dan derajat kecerahan serta menentukan kinetika reaksi pada proses bleaching tersebut. Proses bleaching dilakukan dengan memasukkan serat kelapa kedalam larutan hidrogen peroksida dalam suasana basa. Hasil optimum didapat pada konsentrasi H 2 O 2 3 %, pH 11 dan suhu 60 o C dengan harga derajat kecerahan dan kuat tarik masing-masing 82,10 dan 119,75 Mpa. Perubahan derajat kecerahan dan kuat tarik dari serat kelapa setelah dibleaching diharapkan dapat digunakan sebagai bahan baku reinforced fiber. Kata kunci : serat kelapa, bleaching, konstanta kinetika reaksi, derajat kecerahan, kuat tarik. PENDAHULUAN Kelapa merupakan salah satu tanaman perkebunan yang sangat penting di Indonesia. Dari areal perkebunan seluas 14,05 juta hektar di Indonesia, luas perkebunan kelapa sendiri adalah 3,94 juta hektar atau 27 % dari total area. Menurut Biro Pusat Statistik (2008), total produksi kelapa Indonesia tahun 2008 mencapai 15 juta metrik ton, jika kandungan serabut kelapa adalah 35% dari berat kelapa dan dari serabut kelapa 30% adalah serat kelapa maka dapat diperkirakan sekitar 1,575 juta metrik ton serat kelapa dihasilkan per tahunnya (http://www.bps.go.id/index.php/hasilperkebunan ). Selama ini produk olahan kelapa yang dihasilkan masih terbatas jumlah maupun jenisnya. Produk akhir yang sudah berkembang saat ini adalah desicated coconut, coconut milk/cream, activated carbon, brown sugar dan nata de coco. Coir atau serat kelapa sebagai salah satu produk akhir tanaman kelapa kurang berkembang. Serat kelapa hanya digunakan sebagai bahan bakar, pupuk atau dibuang percuma (http://ditjenbun.deptan.go.id/cigraph/index.php/viewstat/komoditasutama/5-kelapa ) Serat kelapa dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih berkualitas. seperti bahan baku tali, bahan pengisi karpet, tikar, dan permadani (Van Daam, 2002; Subaida et al., 2008). Saat ini sedang berkembang penelitian tentang serat alami sebagai bahan pengisi matriks komposit (Bathia, 2008) seperti komposit polietilen (Brahmakumar et al., 2005), komposit epoksi (Sapuan, 2005) dan lain sebagainya. Serat kelapa sebagai salah satu serat alami mempunyai kelebihan seperti kuat, elastisitas, tahan terhadap peruraian mikroba, tahan terhadap salinitas, biodegradable dan banyak tersedia di alam (Khan et al., 2003; Bismarck et al.,2001). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Asasutrajit et al. (2005) serat kelapa memberikan peningkatan kekuatan dan elastisitas jika ditambahkan pada cement board. Menurut Van Daam (2002) serat yang mempunyai kualitas baik adalah serat yang mempunyai kekuatan, elastisitas dan derajat kecerahan tinggi. Sehingga salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tersebut adalah dengan proses bleaching.