Al-Kauniyah Jurnal Biologi Volume 8 Nomor 2 88 KOMUNITAS KELELAWAR (Ordo Chiroptera) DI BEBERAPA GUA KARST GUNUNG KENDENG KABUPATEN PATI JAWA TENGAH Kamal Tamasuki*, Fahma Wijayanti, Narti Fitriana Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta *Corresponding author: kamal_tamasuki@yahoo.com Abstract The existance of bats in cave type with diverge managerial system are influenced abundance and species bats. This research was conducted from January to June 2012 that counting abundance and to identify bats at Gunung Kendeng Karst Area Pati Central Java. The bats were collected by using mist net and stalk net at flying track surrounding cave’s mouth of Pancur Cave, Serut Cave, Bandung Cave, Pawon Cave, Larangan Cave and Gantung Cave. Bats abundance at Pancur Cave amount ± 484 bats, Serut Cave amount ± 1233 bats, Bandung Cave amount ± 715 bats, Pawon Cave amount ± 392 bats, Larangan Cave ± 23 bats and Gantung Cave ± 5 bats. The six species were collected from this research, such as Cyanopterus horsfieldii, Hipposederos larvatus, Hipposideros bicolor, Rhinolophus affinis, Murina suilla dan Miniopterus australis. The analyst result is used Diversity Index of Shannon-Wiennner showed the highest diversity at Pancur Cave (H=0,35054) and the lowest at Gantung Cave (H=0,13633). Similarity index of shannon Evenness is showed the highest similarity at Pancur Cave (E=0,50572) and the lowest at Larangan Cave (E=0). Domination index of simpson is showed the highest domination at Pancur Cave (C=0,06805) and the lowest at Gantung Cave (C=0,00189). Hipposederos larvatus and Miniopterus australis are species that common and often founded during this research. Keyword: Bats, cave, karst, Gunung Kendeng PENDAHULUAN Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tinggi yang mencakup keanekaragaman flora, fauna dan mikroba (Primack et al., 1998). Tingginya keanekaragaman hayati ini dikarenakan wilayah Indonesia yang terletak di daerah tropik, memiliki berbagai macam tipe habitat, serta berbagai isolasi sebaran berupa laut atau pegunungan (Noerdjito & Maryanto 2005). Indonesia memiliki keaneka- ragaman jenis kelelawar yang cukup tinggi, lebih dari 205 jenis kelelawar yang terdiri dari 72 jenis kelelawar pemakan buah (Megachi- roptera) dan 133 jenis kelelawar pemakan serangga (Mikrochiroptera); atau sekitar 21% dari jumlah jenis di dunia yang telah diketahui (Suyanto 2001).Kelelawar berperansebagai penyeimbang yang penting dalam proses ekologi yang kompleks melalui interaksi- interaksinya. Seperti pada penyebaran benih, penyerbukan, dan penyeimbang populasi serangga (Aguirre et al., 2003). Dari segi ekonomi, hilangnya kelelawar sangat meru- gikan manusia. Karena kelelawar merupakan hewan penyerbuk berbagai jenis tumbuhan pertanian seperti durian, petai dan pisang serta merupakan hewan pemangsa serangga hama pertanian (Wijayanti, 2001). Selain itu kelela- war merupakan penghasil guanoyang memi- liki nilai ekonomi tinggi. Wiyatna (2003) menyatakan bahwa guano kelelawar memiliki kandungan bahan-bahan utama pupuk yaitu 10%, nitrogen, 3%, fosfor dan 1% potasium. Kelelawar juga memiliki peranan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penya- kit menular. Kelelawar yang memiliki rata- rata berat tubuh sekitar 17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi yang berarti menjadi hama (Wijanarko, 2008).