© 2018 The Author(s). This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY) 3.0 license. Praktik Kepercayaan Marapu yang Masih Dijalankan Oleh Umat Katolik di Paroki Hati Kudus Yesus Weekombaka dan Dampaknya terhadap Kehidupan Menggereja Mikael Sene 1 , Wilhelmina Kurnia Wandut 2 , Angelina Jama Nukango 3 1-3 Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, STKIP Weetebula, Sumba Barat Daya, NTT. *Mikael Sene: STKIP Weetebula, Sumba Barat Daya, NTT, Indonesia. Email: mikaelsen2018@gmail.com Abstrak: Kualitas iman umat Katolik sering dikeluhkan masih rendah. Tentu ada banyak faktor penyebab, tetapi salah satu penyebabnya adalah masih ada dualisme kepercayaan pada umat yaitu antara agam Katolik dan keyakinan asli Marapu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik- praktik kepercayaan Marapu yang masih dilaksanakan oleh umata Paroki Hati Kudus Yesus Weekombaka dan dampaknya terhadap kehidupan menggereja di Paroki Hati Kudus Yesus Weekombaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Penentuan informen dalam penelitian ini menggunakan teknik snowball trowing; para tokoh adat, umat yang belum lama melaksanakan upacara adat, pastor paroki dan pengurus basis dan lingkungan. Keabsahan data dilakukan dengan pengujian akan kebenarannya dalam memperoleh data yang akurat untuk mendukung hasil penelitian. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mengetahui keabsahan data dalam penelitian ini antara lain: perpanjangan pengamatan, menggunakan bahan referensi, diskusi dengan tim peneliti dan sejawat, triangulasi, member check, analisis kasus negatif, pengujian transferability, pengujian dependability (audit), pengujian konfirmability. Data dianalaisis model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kebanyakan umat katolik masih melakukan praktek-praktek Marapu, baik sebagai inisiator (tuan pesta) maupun sebagai pihak yang dilibatkan sebagai satu kesatuan sosial masyarakat. Hampir semua praktek ritual adat Marapu masih dilakukan oleh umat tergantung intensi dan pengalaman yang dialami oleh suatu keluarga. Alasan utama umat masih melaksanakan ritual adat adalah alasan keselamatan dan untuk memperoleh berkat. Umat menyakini bahwa penting menjaga keseimbangan kosmos untuk menjaga keharmonisan dengan alam, sesama dan jiwa leluhur. Dampak dari ketidakharmonisan adalah penyakit, gagal panen dan hewan yang mati atau tidak berkembang. Ini berarti bahwa praktek Marapu tersebut berkaitan dengan keselamatan. Kata Kunci: Praktik Kepercayaan Marapu, Umat Katolik, Kehidupan Menggereja Pendahuluan Gereja Katolik mulai masuk di Pulau Sumba pada tanggal 21 April 1889, ditandai dengan datangnya dua misionaris Jesuit yaitu B. Schweitz, SJ dan Br. Busch, SJ sebagai misionaris pertama. Selanjutnya bersama 5 orang teman lainya mereka berkarya selama 9 tahun. Pada masa 9 tahun ini mereka telah mempermandikan 1054 jiwa yang kebanyakan anak-anak. Tahun 1898 para misionaris Serikat Jesuit (SJ) dengan berat hati harus meninggalkan Sumba atas keputusan pimpinan SJ di Yogyakarta karena tenaga mereka dibutuhkan di Jawa. Sejak pulangnya misionaris SJ, maka selama 23 tahun (1898-1921) umat Katolik yang telah dipermandikan di Sumba tidak mendapat pelayanan pastoral sama sekali. Baru pada tahun 1921 para misionaris SVD dari Flores diizinkan untuk mengadakan kunjungan pastoral di Sumba 3 kali Jurnal Edukasi Sumba (JES)