PRIYANTO ET AL.: STABILITAS HASIL JAGUNG HIBRIDA HARAPAN UMUR GENJAH 125 Stabilitas Hasil Jagung Varietas Hibrida Harapan Umur Genjah Yield Stability Analysis of Promising Early Maturing Hybrid Maize Slamet Bambang Priyanto, R. Nenny Iriani, dan Andi Takdir M. Balai Penelitian Tanaman Serealia Jalan Dr. Ratulangi 274 Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia E-mail: s.bambangpriyanto@gmail.com Naskah diterima 9 April 2015, direvisi 30 Oktober 2015, disetujui diterbitkan 10 Maret 2016 ABSTRACT Maize yield represents the interaction between genotype and environment. An excellent genotype should have high mean yield and small variation across common locations.This information could be obtained through yield performance test and stability analysis of yield data obtained from multilocation trials. This research was aimed to find out yield stability of eight early maturing maize promising lines at five sites using the AMMI method. There were total 12 genotypes of maize hybrids used in this research, consisted of eight hybrids (CH-1, CH-2, CH-3, CH-4, CH-5, CH-6, CH-7, and CH-8) and four check varieties (Gumarang, Bima 3, AS-1, and Bisi 2). This research was conducted at five locations ie. Gowa (South Sulawesi), Donggala (Central Sulawesi), Manado (North Sulawesi), Probolinggo (East Java) and Lombok Barat (West Nusa Tenggara) from April to September 2013. The treatments were arranged in a randomized complete block design (RCBD) with 3 replications. Variable measured was grain yield at all trial locations. Analysis of variance was performed for each site data to determine the performance of each genotype at each location. Results showed that genotype CH-2, CH-4 and CH-6 were considered as stable genotypes. Genotype CH-2 and CH-4 have a potensial to be released as new early maturing variety, due to its high yield of 8.71 and 7.52 t/ha averaged over 5 locations. Genotype CH-6 yielded below the mean yield of all genotypes, while genotype CH-8 was adaptive to a specific location, such as in Donggala, with yield of 8.38 t/ha. Keywords: Early maturity, hybrid maize, yield stability, environment, AMMI. ABSTRAK Hasil jagung dipengaruhi oleh interaksi antara genotipe dan lingkungan tumbuh, yang mengakibatkan terdapatnya perbedaan hasil di setiap lokasi pengujian. Genotipe yang baik adalah yang mempunyai rata-rata hasil tinggi dan keragaman hasil antarlokasi kecil. Untuk mengetahui keragaan dan stabilitas genotipe pada berbagai lingkungan diperlukan pengujian multilokasi dan analisis stabilitas hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas hasil galur harapan jagung pada lima lokasi penelitian. Sebanyak 12 genotipe jagung hibrida yang terdiri atas delapan calon hibrida umur genjah (CH-1, CH-2, CH-3, CH-4, CH-5, CH-6, CH-7, dan CH-8) dan empat varietas pembanding (Gumarang, Bima 3, AS-1, dan Bisi 2), diuji di lima lokasi, yaitu Gowa (Sulawesi Selatan), Donggala (Sulawesi Tengah), Manado (Sulawesi Utara), Probolinggo (Jawa Timur), dan Lombok Barat (NTB) dari April sampai September 2013. Rancangan percobaan adalah acak kelompok, tiga ulangan. Peubah yang diamati adalah hasil biji. Analisis ragam data di setiap lokasi dilakukan untuk mengetahui penampilan tiap genotipe pada masing- masing lokasi. Analisis stabilitas hasil menggunakan model AMMI dengan software CropStat 7.2. Hasil penelitian menunjukkan genotipe CH-2, CH-4, dan CH-6 tergolong stabil. Genotipe CH-2 dan CH-4 berpeluang dilepas sebagai varietas unggul baru umur genjah karena mempunyai rata-rata hasil lebih tinggi, masing-masing 8,71t/ ha dan 7,52 t/ha, sedangkan genotipe CH-6 memiliki rata-rata hasil lebih rendah dibanding rata-rata hasil genotipe yang diuji. CH-8 adalah genotipe spesifik lokasi Donggala dengan hasil biji 8,38 t/ha Kata kunci: Jagung hibrida, genjah, stabilitas hasil, indeks lingkungan, AMMI. PENDAHULUAN Program pemuliaan jagung bertujuan untuk mendapatkan varietas unggul baru yang berdaya hasil tinggi, toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik serta memiliki sifat-sifat lain yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Salah satu sifat varietas unggul jagung yang diinginkan adalah umur genjah, salah satu mekanisme tanaman untuk menghindari kekeringan pada akhir masa pertumbuhan. Jagung umur genjah juga sesuai dikembangkan pada daerah yang memiliki masa pertanaman pendek, pada lahan sawah tadah hujan, dan bermanfaat untuk meningkatkan indeks pertanaman (Azrai 2013). Perakitan varietas jagung umur genjah dengan hasil tinggi dilakukan melalui berbagai tahap, salah satu adalah uji multilokasi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui penampilan genotipe pada setiap lingkungan dan interaksi genotipe dengan lingkungan dan stabilitasnya (Djufri dan Lestari 2012). Hasil tanaman ditentukan oleh interaksi antara faktor genotipe dan lingkungan. Lingkungan merupakan gabungan faktor kesuburan tanah, cuaca, kelembaban tanah, dan kultur teknis. Interaksi genotipe x lingkungan