FENOMENA BEGU GANJANG DAN TANTANGAN PASTORALNYA 1 Raja Oloan Tumanggor Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara rajat@fpsi.untar.ac.id Abstrak Fenomena Begu Ganjang sempat menjadi masalah sosial di beberapa tempat di Sumatera Utara. Begu ganjang adalah sebutan tradisional untuk sejenis roh yang dapat menimbulkan mala pelataka bagi orang lain. Persoalannya adalah orang kerap menuduh orang lain memelihara begu ganjang, sehingga mendapat legitimasi dari masyarakat untuk membinasakan orang tersebut. Namun persoalan ini sebenarnya tidak lepas dari konsep masyarakat setempat mengenai roh yang diwarisi dari agama tradisional. Persoalan menjadi rumit karena ada sekelompok masyarakat mendapat stigma negatif pemelihara begu ganjang. Hal ini menjadi tantangan pastoral (kegembalaan) bagi pemimpin agama untuk mengatasi persoalan ini. Maka penjelasan tentang konsep begu ganjang yang tepat secara antropologis, teologis perlu disampaikan dan pendampingan rohani terhadap korban merupakan solusi yang bisa dilakukan. Kata-kata kunci: begu ganjang, pastoral, fenomena, roh Pendahuluan Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di Sumatera Utara, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal- usul dan makna kata tersebut. Selain itu gejala ini menjadi tantangan serius bagi kehadiran kekristenan dalam karya pastoralnya di tengah-tengah jemaat. Paparan ini bukan bermaksud menjawab segala persoalan yang muncul sehubungan dengan begu ganjang, tapi hanya sebatas memberikan sedikit pemahaman terminologis dan sikap pastoral apa yang bisa dilakukan berhadapan dengan isu begu ganjang. Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku Batak Toba sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Batak Toba (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa 1 Artikel ini sudah dimuat di Majalah Mingguan HIDUP edisi no 36, 7 September 2008, h. 8-9. Daftar Pustaka ditambahkan kemudian sebagai bahan referensi.