Virtual Piety and Muslim Traditionalism Mainstreaming 209 Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 8 Nomor 2 2020 Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan issn 2354-6174 eissn 2476-9649 Tersedia online di: journal.iainkudus.ac.id/index.php/fikrah Volume 8 Nomor 1 2020, (1-24) DOI: 10.21043/fikrah.v8i1.7914 Virtual Piety and Muslim Traditionalism Mainstreaming: The Digital Activism of Bangkitmedia.com and Kyaiku.com Luthfi Rahman Universitas Islam Negeri WaliSongo Semarang, Indonesia email luthfirahman@walisongo.ac.id Abstrak Penelitian ini memfokuskan pada kajian dua situs berita bangkitmedia.com dan kyaiku.com yang cukup gencar melakukan digital activism dengan mengupdate info berita mengenai nasihat dan perilaku kyai. Fenomena digital activism mengantarkan pada pertanyaan apa makna dibalik fenomena tersebut yang dilakukan oleh kaum santri dalam mewarnai diskursus di media sosial yang marak dewasa ini. Bagi penulis, dua situs portal berita tersebut mencoba untuk membangun virtual piety melalui narasi teks maupun video yang berupa ceramah, religiusitas dan kebijaksanaan hidup dari figur kyai. Fenomena virtual tersebut mengarahkan penulis untuk mempertanyakan apa yang melatarbelakangi digital activism dua situs tersebut. Artiekl ini menggunakan penelitian kualitatif yang metode pengumpulan datanya melalui wawancara serta dokumentasi dengan menggunakan pendekatan digital hermeneutik. Berdasarkan peneltian, adanya gerakan virtual kaum tradisionalis yaitu santri virtual. Maka penulis memiliki argumentasi bahwa virtual piety mengarahkan pada traditionalism mainstreaming yang berfungsi sebagai: media moderasi virtual dan kontra narasi radikal melalui konten narasi teks maupun video kyai. Kata kunci: Bangkitmedia.com, kesalehan virtual, kyaiku.com, moderasi virtual Abstract This research focuses on two sites bangkitmedia.com and kyaiku.com which, in the last few years, have been quite intensive in doing digital activism through media sharing about advices and exemplary behaviours of traditional religious clerics or kyai. The phenomenon leads to questioning what behind the digital activism of the two sites is. This paper aims to know and comprehend how such activism within bangkitmedia.com and kyaiku.com has been going through in coloring social media and what message they try to convey to netizens. This is a qualitative research that collects the data from interview and documentation