VALUE HISTORIS SITUS KELENTENG PANTULAK SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS BERBASIS PENDIDIKAN MULTIKULTURE KELAS VII DI SMPN 3 SUNGAI AMBAWANG a Emi Tipuk Lestari, b Saiful Bahri, c,1 Yulita Dewi Purmintasari a,b,c IKIP PGRI Pontianak 1 yulita.dewi46@gmail.com Informasi artikel ABSTRAK Kata Kunci: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Value Historis situs Klenteng Pantulak tersebut, dan mengetahui pemanfaatan situs Klenteng Pantulak sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS berbasis Pendidikan Multikulture di SMPN 3 Sungai Ambawang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah mix method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelenteng Pantulak merupakan bentuk akulturasi suku Dayak, Melayu, Madura dan Cina menghasilkan keanekaragaman budaya dan perdamaian antar suku terjalin dengan baik hingga saat ini. Dalam pembelajaran IPS berbasis multikultur Klenteng Pantulak menjadikan sebuah sumber pembalajaran yang tepat dengan materi maupun kondisi siswa di SMP N 3 Ambawang yang multietnis. ABSTRACT Keywords: This study aims to determine the Historical Value of the Pantulak Temple site, and to know the use of the Pantulak Temple site as a learning resource in social studies based on Multicultural Education at SMPN 3 Sungai Ambawang. The research method used in this study is the mix method. The results showed that the Pantulak Temple is a form of acculturation of Dayak, Malay, Madurese and Chinese tribes, resulting in cultural diversity and inter-tribal peace that has been well established to this day. In multicultural social studies learning based on Pantulak Temple, it becomes a source of learning that is appropriate to the material and conditions of multi-ethnic students in SMP N 3 Sungai Ambawang. PENDAHULUAN Kalimantan Barat khususnya Ambawang dipandang sebagai contoh masyarakat majemuk dengan pandangan pluralisme karena anekaragam masyarakat dan kebudayaannya, setidak-tidaknya pada masa lampau, kurang berinteraksi satu sama lain, antara lain karena faktor geografis kepulauan. Multikulturalisme Berbeda dari konsep pluralisme yang menekankan keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaannya, sehingga setiap kebudayaan dipandang sebagai entitas yang distinktif, maka multikulturalisme lebih menekankan relasi antar-kebudayaan dengan pengertian bahwa keberadaan suatu kebudayaan harus mempertimbangkan keberadaan kebudayaan lainnya. Dari sini lahir gagasan kesetaraan, toleransi, saling menghargai, dan sebagainya. Salah satu karya monumental dari kerjasama antar etnik di Ambawang Kubu Raya adalah berdirinya Klenteng Pantulak. Vol. 16, No. 2 Tahun 2019 | 133-148