Jurnal Biota Vol. 1 No. 1 Edisi Agustus 2015 | 52 PENGARUH PENAMBAHAN ABU SISA PEMBAKARAN BATUBARA PADA MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annum L) Yustina Hapida E-mail: vida_elok@yahoo.com ABSTRACT The research on the effect of adding coal ash residue in the planting media on the growth of Chili (Capsicum annum L) has been carried out, the purpose of the study was to determine the effect of coal ash mixed in the planting medium on the growth of Chili (C. annum L). This method was used a completely randomized experiment (RAL) consists of 7 treatmens with 3 replications. P0 (as a control), P1 (medium mixed with 2 grams of residual ash coal) P2 (4gr), P3 (6gr), P4 (8 g), P5 (10gr), P6 (12gr). Parameters measured were plant height, root length, shoot fresh weight, shoot dry weight, root fresh weight, root dry weight, and time when of the first fruit is appear. The data were analyzed with F test, the results showed that the coal ash residue has no real effect on the growth parameters, the maximum effect of the dose is at P5 10gr. The data obtained on plant height parameter are 39.67 cm, 25 cm root length, shoot fresh weight 16.40 grams, 3.38 gram wet weight root, shoot dry weight of 3.1 grams, 1,1gr root dry weight and the appearance of the first fruit is on P4 that 52.3 days. Pasword: coal ash residue, Chili. PENDAHULUAN Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang tidak dapat ditinggalkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya cabai digunakan untuk keperluan bumbu dapur atau rempah-rempah penabah cita rasa makanan (masakan) (Rukmana,1996:11). Disamping kontribusi aromanya, cabai adalah sumber gizi dan digunakan sebagai obat (Rubatzky and Vincent, 1994:24). Pada cabai terkandung protein, lemak, karbohidrat, kalsium (Ca, fosfor, besi (Fe), vitamin, dan senyawa alkaloid seperti zat capsicin, flavonoid dan minyak esensial. Rasa pedas cabai ditimbulkan oleh zat capsaicin yang terdapat pada biji dan plasenta (Prajnanta, 1995:12). Berdasarkan wijayakusuma (1998:5) sebagai obat, daun cabai berkhasiat mengatasi sakit perut dan bisul. Akarnya berkhasiat mengatasi sakit kepala, kaki dan tangan lemas, urat saraf lemah. Buahnya dapat mengatasi sakit gigi, reumatik, bau badan, mual, demam, wasir, dan melancarkan pencernaan. Bijinya berkhasiat mengatasi disentri, dan diare. Rubatzky and Vincent (1999:25) menyebutkan bahwa capsicin merupakan senyawa yang dikenal untuk mengurangi gejala psoriasis, arthritis, dan alergi kontak. Pada dasarnya di Indonesia dibudidayakan 2 spesies cabai yaitu cabai merah (C. annum) dan cabai rawit (C. frutescens) yang masing-masing mempunyai banyak varietas (Semangun, 2000:47). Kedua spesies ini dikenal banyak memiliki varietas hasil silang, sehingga dihasilkan beragam variasi ukuran, bentuk, dan rasa pedas pada buah (Edmond et al, 1975 dalam Marlina, 2000). Dalam usaha budidaya tanaman cabai, upaya peningkatan hasil produksi adalah dengan pemberian pupuk. Umumnya para petani menggunakan pupuk anorganik karena kandungan unsur hara relatif tinggi. Namun saat ini, harga pupuk anorganik semakin tinggi yang mengakibatkan harga cabai dipasaran dan penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dapat berdampak negatif terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Untuk itu perlu dicari pupuk alternatif yang mura harganya, mengandung banyak bahan organik dan tidak berdapak pada penurunan kualitas tanah. Abu sisa pembakaran batubara merupakan limbah pembakaran batubara oleh PLTU dan industri lain yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya. Limbah ini berbentuk partikel debu yang ringan, mudah melayang, dan dihasilkan dalam jumlah yang banyak, namun pemanfaatnnya belum optimal sehingga sebagian