Serambi Engineering, Volume VI, No. 4, Oktober 2021 Hal 2330 - 2336 2330 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Pengetahuan dan Adaptasi Petani Kopi terhadap Perubahan Iklim di Kecamatan Air Hitam Kabupaten Lampung Barat Abdul Mutolib 1* , Ali Rahmat 2 , Tita Sumiati 3 1,3 Program Studi Magister Agribisnis, Program Pascasarjana Universitas Siliwangi 2 Pusat Penelitian Limnologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia *Koresponden email: amutolib24@yahoo.com, abdul.mutolib@unsil.ac.id Diterima: 8 September 2021 Disetujui: 11 Oktober 2021 Abstract Climate change has caused production declines and crop failures in some agricultural commodities. This study aims to identify the level of knowledge, adaptation practices, and types of protective trees used by coffee farmers in dealing with climate change. The research was carried out in Rigis Jaya Village, West Lampung District from May to July 2021. The number of respondents was 80 coffee farming households. Respondents were determined through a simple random sampling approach. The data collected consists of qualitative and quantitative data. Data collection was carried out through the survey method. The results of the study illustrate that coffee farmers have realized that climate change has occurred. 60% of coffee farmers are aware of climate change in the last 1-5 years and 20% of coffee farmers are more than 5 years old. From mitigation practices, 25% of coffee farmers mitigate climate change. Climate change mitigation practices carried out by farmers are through the use of superior coffee varieties, planting shade trees, setting coffee spacing, making vents, and utilizing the remaining coffee husks to increase soil fertility and moisture. There are 14 types of shade trees planted by farmers consisting of legumes and non-legume trees. Petai (Parkia speciosa) is the most widely planted shade tree in coffee plantations with 45% of the total respondents. Keywords: farmers, robusta coffee, knowledge, adaptation, climate change Abstrak Sektor pertanian yang bergantung dengan alam sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim menyebabkan penurunan produksi dan gagal panen diberbagai wilayah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat pengetahuan (knowledge), praktik adaptasi (adaptation), dan jenis pohon pelindung yang digunakan petani kopi dalam menghadapi perubahan iklim. Penelitian dilaksanakan di Pekon Rigis Jaya Kabupaten Lampung Barat pada Mei hingga Juli 2021. Jumlah responden sebanyak 80 rumah tangga petani kopi. Responden ditentukan melalui pendekatan simple random sampling. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa petani kopi telah menyadari telah terjadi perubahan iklim. Sebanyak 60% petani kopi menyadari perubahan iklim sejak 1-5 tahun terakhir dan sebanyak 20% petani lebih dari 5 tahun terakhir. Dari praktik mitigasi, hanya 25% petani yang menerapkan mitigasi perubahan iklim. Praktik mitigasi perubahan iklim yang dilakukan petani melalui penggunaan varietas kopi unggul, penanaman pohon pelindung, pengaturan jarak tanam kopi, pembuatan lubang angin, serta pemanfaatan sisa kulit kopi untuk meningkatkan kesuburan dan kelembaban tanah. Terdapat 14 jenis pohon pelindung yang ditanam petani yang terdiri dari pohon legum dan non-legum. Petai (Parkia speciosa) adalah pohon pelindung yang paling banyak ditanam pada kebun kopi dengan jumlah 45 % dari total responden. Kata Kunci: petani, kopi robusta, pengetahuan, adaptasi, perubahan iklim 1. Pendahuluan Sub sektor perkebunan menjadi urutan pertama sebagai penyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari sektor pertanian pada tahun 2019 berdasarkan laporan tahunan Badan Pusat Statistik. Kontibusi yang diberikan sebesar 3,27 persen terhadap total PDB dan sebesar 25,71 persen terhadap sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 luas lahan untuk sektor pertanian di Indonesia hingga tahun 2018 mencapai 7,1 juta hektar. Pembangunan pertanian khususnya subsektor perkebunan menghadapi berbagai masalah. Pertambahan penduduk menyebabkan alih fungsi lahan sehingga lahan produktif perkebunan semakin sempit. Pada hakikatnya sektor perkebunan merupakan sektor unggulan pertanian di Indonesia. Terbukti beberapa komoditas perkebunan di Indonesia mampu menyerap tenaga kerja yang besar, memberikan