JURNAL LITTRI VOL 15 NO. 4, DESEMBER 2009 : 162 - 167 162 RESPON TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK BIO PADA KONDISI AGROEKOLOGI YANG BERBEDA MUCHAMAD YUSRON Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Jalan Tentara Pelajar No. 3 Bogor E-mail : much_yusron@yahoo.com (Terima tgl. 11- 5 - 2009 – Terbit tgl. 2 – 11 – 2009) ABSTRAK Efisiensi pemupukan dan peningkatan produktivitas temu-temuan dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk bio. Penelitian untuk mengetahui respon temulawak terhadap pupuk bio telah dilaksanakan di dua kondisi agroekologi yang berbeda di Kabupaten Boyolali, yakni di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu (jenis tanah Mediteran coklat tua, 200 m dpl, tipe iklim C, tegakan jati umur 3 tahun, intensitas cahaya sekitar 60%), dan Desa Kaligentong, Kecamatan Ampel (Andosol, 600 m dpl, tipe iklim B, hutan sengon rakyat, intensitas cahaya sekitar 40%). Penelitian dilaksanakan mulai Oktober 2002 sampai September 2003. Jarak tanam temulawak 50 cm x 75 cm, luas petak 10 m x 10 m. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan dan 9 ulangan. Perlakuan adalah dosis pupuk bio, yaitu (i) 0, (ii) 45, dan (iii) 90 kg/ha. Sedangkan pupuk dasar yang diberikan adalah 10 ton pupuk kandang + 200 kg urea + 200 kg SP-36 + 200 kg KCl per ha. Pupuk bio yang digunakan mengandung mikroorganisme aktif Azospirillum lipoferum Beijerincki, Azotobacter vinelandii Beijerincki, Aeromonas punctata Zimmermann, dan Aspergillus niger van Tiegham. Pupuk urea diberikan tiga kali, masing-masing 1/3 bagian pada 1, 2, dan 3 bulan setelah tanam (BST). Pengamatan dilakukan terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah anakan, produksi rimpang dan mutu rimpang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anakan tidak dipengaruhi oleh kondisi agroekologi. Pupuk bio secara nyata mampu meningkatkan produktivitas temulawak, namun peningkatan tersebut dipengaruhi oleh kondisi agroekologi. Penambahan pupuk bio sebesar 45 dan 90 kg/ha meningkatkan produksi rimpang segar temulawak sebesar 24 dan 47%. Mutu simplisia yang dihasilkan memenuhi standar Materia Medica Indonesia. Kata kunci : Curcuma xanthorrhiza Roxb, pupuk bio, kondisi agroekologi ABSTRACT Response of Java Turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb) to Biofertilizers Application Under Different Agroecological Condition Fertilization efficiency and yield of zingiberaceae may be improved through the application of biofertilizers. A field experiment to evaluate the response of Java turmeric to the application of biofertilizers under different agroecological conditions was carried out at Wonoharjo, Kemusu Subdistrict (dark brown Mediterranean soil, 200 m asl., climate type C, 3 years teak plantation, light intensity 60%), and Kaligentong, Ampel Subdistrict (Andosol, 600 m asl., climate type B, 5 years albizia plantation, light intensity 40%). Both experimental sites were located at Boyolali District. The experiment was conducted from October 2002 to September 2003. Planting distance was 50 cm x 75 cm, and plot size was 10 m x 10 m. The experiment was arranged using randomized block design with three treatments and 9 replicates. The treatments were biofertilizer dosage, i.e. (i) 0, (ii) 45 and (iii) 90 kg/ha. Inorganic fertilizers was applied as basal fertilization, i.e. 10 ton manure + 200 kg urea + 200 kg SP-36 + 200 kg KCl per hectare. Biofertilizer contained some active microorganisms, i.e. Azospirillum lipoferum Beijerincki, Azotobacter vinelandii Beijerincki, Aeromonas punctata Zimmermann and Aspergillus niger van Tiegham. Urea was applied 1/3 dosage each at 1, 2, 3 months after planting (MAP). Manure was applied a week before planting, while SP-36 and KCl were applied at planting time. Parameters observed were plant height, numbers of clump, fresh rhizome yield and dried rhizome quality. The results showed that plant growth was not significantly affected by agroecological conditions. Biofertilizers significantly affected crop yield, however, the increase of crop yield was affected by agroecological conditions. Application 45 and 90 kg/ha of biofertilizers of increased fresh rhizome yield of about 24 and 47%. Dried rhizome quality of all treatments meet Materia Medica Indonesia standard. Keywords : Curcuma xanthorrhiza Roxb, biofertilizers, agroecological conditions PENDAHULUAN Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) meru- pakan salah satu dari sembilan jenis tanaman unggulan dari Ditjen POM yang memiliki banyak manfaat sebagai bahan obat. Tanaman ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas, baik dipergunakan oleh masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan atau pengobatan penyakit, maupun dalam industri obat tradisional dan kosmetika (HERNANI, 2001). Manfaat temu- lawak untuk kesehatan cukup banyak, di antaranya untuk memperbaiki nafsu makan, fungsi pencernaan, fungsi hati, mengurangi nyeri sendi dan tulang, menurunkan lemak darah, menghambat penggumpalan darah, sebagai anti- oksidan, dan memelihara kesehatan (BADAN POM, 2004). Melihat banyaknya manfaat temulawak, pada tahun 2004 pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Minum Temulawak. Temulawak merupakan komponen penyusun hampir setiap jenis obat tradisional yang dibuat di Indonesia. Hasil survei pemanfaatan tanaman obat dalam industri obat tradisional menunjukkan bahwa temulawak dipergunakan sebagai bahan baku 44 jenis produk obat tradisional. Penggunaan temulawak mengalami perkembangan, dimulai dari sediaan obat tradisional, melalui sediaan obat herbal terstandar, akhirnya menjadi sediaan fitofarmaka. Saat ini total serapan temulawak dalam industri obat tradisional dan Jurnal Littri 15 (4), Desember 2009. Hlm. 162 – 167 ISSN 0853-8212