SEMINAR INFORMATIKA APLIKATIF POLINEMA (SIAP) 2020 ISSN 2460-1160 371 ALAT PENGERING KERUPUK BERBASIS ARDUINO MENGGUNAKAN METODE FUZZY M. Imron Rozikin 1 , Yuri Ariyanto 2 , Vipkas Al Hadid Firdaus 3 1,2,3 Teknik Informatika, Teknologi Informasi, Politeknik Negeri Malang 1 yuri@polinema.ac.id, 2 vipkas@polinema.ac.id , 3 rozikinimron@gmail.com AbstrakPengeringan kerupuk merupakan suatu proses untuk pembuatan kerupuk. Namun proses pengeringan kerupuk yang biasanya memakai sinar matahari sering terhambat dikarenakan musim yang tidak menentu, sehingga produksi kerupuk akan berhenti dan mengakibatkan pemilik usaha kerupuk merugi. Maka dari itu dibutuhkan sistem untuk pengeringan kerupuk berbasis internet of things (IoT). Penelitian ini menggunakan sensor suhu dan kelembaban DHT11 sebagai input data. Perangkat Arduino Uno sebagai pembaca data dan kontrol power dari lampu halogen sebagai sumber panas pada prototipe pengering kerupuk. Dashboard pengering kerupuk digunakan untuk menerima data yang dikirim arduino uno dan mengolah data tersebut menggunakan metode. Perangkat alat pengering kerupuk dan dashboard pengering kerupuk berkomunikasi melewati thingspeak sebagai penerima data dan penyalur data. Metode yang digunakan untuk mengolah data adalah metode Fuzzy Sugeno dengan dua parameter utama yaitu suhu dan kelembaban. Pada 9 kali pengujian menunjukkan tingkat keberhasilan perhitungan metode Fuzzy Sugeno adalah 100%. Sistem ini berhasil melakukan monitoring dan controlling pada prototipe pengering kerupuk berbasis IoT yang bisa memantau dari jarak jauh dan secara otomatis mengelola suhu pada prototipe pengering kerupuk agar tetap stabil, sehingga mempermudah produsen kerupuk untuk memantau kondisi pengering kerupuk meskipun berada jauh dari tempat pengeringan kerupuk selama alat dan produsen kerupuk terhubung ke jaringan internet. Kata kuncialat pengering kerupuk, arduino uno, fuzzy sugeno, internet of things (iot), suhu, kelembaban I. PENDAHULUAN Kerupuk adalah salah satu jenis makanan yang sudah lama dikenal dan disukai oleh masyarakat di tanah air. Selain sebagai camilan, kerupuk sering dijadikan sebagai lauk pauk untuk makan sehari-hari. Sehingga dapat dikatakan kerupuk merupakan makanan yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat untuk dikonsumsi. Maka dari itu, pengusaha kerupuk harus tetap berjalan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Salah satu tahapan dalam pembuatan kerupuk adalah pengeringan. Pengeringan pada dasarnya merupakan usaha untuk mengurangi kandungan air yang ada pada obyek yang dikeringkan. Kandungan air yang ada telah menyatu dalam benda. Proses yang bisa digunakan untuk mengeluarkan kandungan air tersebut adalah proses penguapan. Proses ini dapat berlangsung apabila obyek yang dikeringkan diberi pemanasan, baik dengan memanfaatkan sinar matahari atau diberi sumber panas lain, baik secara elektrik maupun dengan menggunakan nyala api (A Walujodjati & Darmanto: 2015). Keberhasilan dan kualitas kerupuk tergantung pada proses pengeringan yang dilakukan. Pengeringan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena kerenyahan kerupuk ditentukan oleh banyaknya kadar air. Semakin banyak mengandung air, maka kerupuk akan semakin keras dan tidak renyah. Kenyataan di lapangan, proses pengeringan yang dilakukan masih dilakukan secara konvensional, yaitu pengeringan dilakukan di tempat terbuka yang bergantung dari sinar matahari dan diangin-anginkan (A Walujodjati, 2015). Pengeringan kerupuk dengan cara konvensional yakni dengan menggunakan sinar matahari, selama ini dianggap paling mudah, praktis, dan hemat biaya, namun memiliki beberapa kekurangan. Selain membutuhkan tempat yang luas, kerupuk juga mudah terkontaminasi oleh debu, kotoran, dan polusi kendaraan, sehingga kerupuk menjadi tidak higienis yang menyebabkan mutu menjadi rendah, mudah pecah, dan tidak menarik. Kekurangan pengeringan konvensional lainnya adalah pada saat pengeringan harus ada yang menunggu jika sewaktu-waktu turun hujan, sedangkan ada banyak aktivitas lain selain harus menunggu kerupuk. Ini tentu menambah pekerjaan dan merepotkan manusia. Oleh sebab itu, perlu dibuat alat pengering otomatis sehingga saat turun hujan atau mendung pengeringan masih bisa dilakukan tanpa tergantung cuaca. Alat pengering ini dilengkapi dengan mikrokontroler arduino uno sebagai pengendali otomatis. Lampu halogen dipilih peneliti sebagai sumber panas karena memiliki panas yang setara dengan panas matahari dan kipas dc dipilih sebagai penyebar panas agar panas yang dihasilkan oleh lampu halogen dapat merata ke ruang