Seminar Nasional Tahunan XVI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan Tahun 2019 349 Semnaskan-UGM XVI | Pasca Panen | TB-06 | Fauzi et al. PENGARUH TEKANAN EVAPORATOR PADA PERFORMANSI SISTEM ALREF UNTUK PENAMPUNG IKAN PADA KAPAL NELAYAN 10-15 GT Ahmat Fauzi*, Tri Nugroho Widianto & Naila Zulfa Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan * e-mail: ahmat.fauzi@gmail.com ABSTRAK Metode pendinginan merupakan salah satu upaya untuk menjaga mutu ikan setelah penangkapan dan transportasi di atas kapal. Salah satu sistem pendinginan yang telah dibuat adalah sistem ALREF (air laut yang direfrigerasi) untuk penyimpanan ikan pada kapal 10-15 GT. Sistem ALREF terdiri dari komponen utama berupa palka dengan volume sekitar 2,03 m 3 , evaporator, kondensor, kompresor, palka, refrigerant dan katup ekspansi. Evaporator berfungsi menyerap panas media pendingin oleh refrigeran di dalam evaporator. Evaporator terbuat dari pipa tembaga dengan panjang 84 m, diameter 5/8 inch dan tebal pipa 1,6 mm. Tekanan evaporator merupakan salah satu variabel penting yang menentukan performansi pendinginan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan antara tekanan evaporator dengan performansi pendinginan pada sistem ALREF. Perlakuan yang dilakukan adalah variasi tekanan evaporator 0 dan 1 bar. Pengujian dilakukan pada kondisi palka tanpa beban selama 2 jam dengan parameter pengamatan yaitu suhu udara yang didinginkan di dalam palkah pada 5 titik, arus dan tegangan listrik yang dibutuhkan, tekanan dan suhu kondensor dan tekanan dan suhu evaporator. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kecepatan pendinginan udara rata-rata pada tekanan 0 dan 1 bar masing-masing adalah 19,2 dan 15,4 o C/jam. Daya listrik aktual pada tekanan 0 dan 1 bar masing-masing adalah 2,57 kW dan 2,9 kW, sedangkan kebutuhan daya kompresor masing-masing 2,03 dan 2,27 kW. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tekanan evaporator 0 bar menghasilkan performa pendinginan yang lebih baik dan kebutuhan daya listrik yang lebih rendah. Kata kunci evaporator, kecepatan pendinginan, performansi, sistem ALREF, tekanan Pengantar Metode pendinginan merupakan salah satu upaya untuk menjaga mutu ikan setelah penangkapan dan transportasi di atas kapal. Turunnya mutu ikan hasil tangkapan setelah proses penanganan dan transportasi di kapal saat ini masih tinggi. Seperti halnya mutu hasil tangkapan ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng Kabupaten Gunung Kidul akibat proses penanganan ikan di atas kapal yang kurang baik. Salah satu penyebab turunnya mutu ikan tersebut adalah metode pendinginan yang digunakan saat ini masih menggunakan es balok. Es banyak digunakan sebagai mediapendingin karena mudah digunakan dan memiliki kapasitas pendinginan yang besar (Jain et al. 2005). Namun penggunaan es balok memiliki kekurangan antara lain ikan di bagian bawah palka rusak karena tertekan oleh ikan di bagian atasnya. Selain itu juga bongkahan es yang tajam dapat merobek kulit/perut ikan, kondisi ini diperparah dengan adanya guncangan di kapal. Ketersediaan es balok juga kadang terbatas dan sulit didapat. Kapal penangkap ikan di PPP Sadeng terdiri atas 50 Perahu Motor Tempel (PMT/Jukung), 52 kapal motor terdiri atas kapal sekoci 5 – 30 GT dan kapal Inka Mina >30 GT. Sistem pendingin ikan yang umum digunakan di PPP Sadeng adalah sistem pendingin palka dengan es. Rata – rata kapal motor 10 – 15 GT di PPP Sadeng memiliki 3 buah palka, dan masing – masing palka mampu menampung es balok sekitar 45 – 60 buah es balok seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Dengan berat es per balok sekitar 50 kg maka es yang dibawa sekitar 2,5 - 3 ton/trip dengan lama penangkapan sekitar 5-12 hari. Penggunaan es dengan jumlah tersebut juga menambah berat kapal dan mengurangi kapasitas volume palkah untuk ikan dan menambah kebutuhan bahan bakar selama penangkapan ikan (Widianto et al., 2016). Gambar 1 Kapal ikan 15 GT dengan 3 palka (kiri) dan es balok sebagai pendingin pada palka (kanan); (Sumber dokumen pribadi)