24 | Indonesia Jurnal Kebidanan Volume 5 Nomor 1 (2021) PENGARUH BATUK PROVOKASI PADA FASE EKSPULSI JANIN TERHADAP KEJADIAN LASERASI PERINEUM Nor Asiyah 1* , Islami 2 , Nasriyah 3 email: norasiyah@umkudus.ac.id. a islami@umkudus.ac.id. b nasriyah@umkudus.ac.id. c jurusan kebidanan, universitas muhammadiyah kudus jl. ganesha no. 1 purwosari kudus, jawa tengah, indonesia. Abstrak Latar Belakang: AKI di Indonesia kebanyakan disebabkan oleh perdarahan, salah satu penyebab perdarahan yaitu Laserasi perineum. Untuk mengurangi drajat laserasi perineum, sebaiknya perineum tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat dilalui oleh kepala janin. Batuk provokasi pada fase ekspulsi janin merupakan perbuatan untuk membangkitkan suatu rangkaian reflek batuk yang akan menyebabkan kontraksi otot rangka. Kontraksi ini akan menyebabkan tekanan intra abdominal dan tekanan intra torakal meningkat yang berakibat terjadinya desakan pada janin sehingga akan terjadi ekspulsi janin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah batuk provokatif mampu mengurangi derajat laserasi perineum. Metode: Penelitian dilakukan dengan cara Quasi eksperimental designs, Subjek penelitian adalah parturient yang melahirkan di BPM Nor Asiyah, yang memenuhi kriteria tertentu seperti usia kehamilan matur, pasien dapat dikondisikan untuk batuk provokatif, bidan mengetahui saat pembukaan lengkap, Berat bayi Normal. Usia ibu tidak termasuk resiko tinggi, lama mengejan tidak melebihi 60 menit untuk multi dan tidak lebih dari 120 menit untuk primi. Responden sebanyak 40, di bagi menjadi 2 kelompok, Pengambilan sampel dilakukan dengan cara quota sampling. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Hasil: Berdasarkan hasil uji statistik untuk laserasi perineum pada kedua kelompok diperoleh nilai p value 0,419 (p>0,05). Kesimpulan: Tidak ada pengaruh yang bermakna antara batuk provokatif pada fase ekspulsi janin terhadap kejadian laserasi perineum. Kata Kunci: Batuk provokasi, Laserasi Perineum. Abstract Background: In Indonesia, Mortality rate is mostly caused by bleeding and one of the causes of bleeding is perineal laceration. To reduce the degree of perineal laceration, it is best if the perineum is neither too fast nor too slow for the fetal head to pass. Coughing provocation in the fetal expulsion phase is an act to generate a series of cough reflexes that will cause skeletal muscle contraction. This contraction will cause intra-abdominal pressure and intra-thoracic pressure to increase which results in a pressure on the fetus so that fetal expulsion will occur. The purpose of this study was to determine whether a provocative cough can reduce the degree of perineal laceration. Methods: The study was a quasi experimental designs. The subjects of the study were parturient who gave birth at BPM Nor Asiyah, who met certain criteria such as a mature gestational age, the patient could be conditioned to a provocative cough, the midwife knew when the opening was complete, and the baby's weight was normal. Maternal age is not considered a high risk, long pushing should not exceed 60 minutes for multi and no more than 120 minutes for primi. There were 40 respondents, divided into 2 groups. The Sampling technique was done by quota sampling. Data analysis was performed using the Mann-Whitney test. Results: Based on the results of statistical tests for perineal lacerations in both groups, the p value was 0.419 (p> 0.05). Conclusion: There is no significant effect between provocative cough in fetal expulsion phase on the incidence of perineal laceration. Keywords: Provocative cough, Perineal laceration. PENDAHULUAN Angka Kematian Ibu (AKI) sampai saat ini masih cukup tinggi, sedangkan target pembangunan berkelanjutan atau yang dikenal dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Meskipun pemerintah telah banyak melakukan upaya untuk dapat menurunkan AKI namun hasilnya masih belum signifikan. Upaya penurunan AKI hanya efektif jika ada peran serta dari semua pihak. Hasil survai demografi Kesehatan Indonesia 2012